Harga Rumah dan Pendidikan: Penghalang Terbesar Akses Kekayaan Keluarga
Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa tingginya harga rumah di daerah dengan fasilitas publik yang baik menjadi hambatan utama bagi keluarga dalam membangun kekayaan jangka panjang.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Dengarkan Aspirasi Mahasiswa dalam Pertemuan di Senayan
Analisis dari Goldman Sachs menunjukkan keterkaitan yang signifikan antara kualitas pendidikan dan tingkat kepemilikan rumah di berbagai daerah.
Analisis yang dilakukan Goldman Sachs menunjukkan perbandingan antara kepemilikan rumah dan kualitas sekolah publik di beberapa wilayah, dengan kualitas pendidikan diukur berdasarkan nilai rata-rata tes lokal.
Hasilnya menunjukkan bahwa daerah dengan kualitas pendidikan tinggi umumnya memiliki harga rumah yang lebih tinggi. "Bagi banyak rumah tangga, mahalnya rumah milik sendiri bukan sekadar masalah biaya hidup," jelas para analis.
Implikasi dari temuan ini mengarah pada mobilitas sosial, di mana kurangnya akses layanan pendidikan dan peluang kerja berdampak khususnya pada keluarga berpendapatan rendah. Kendala ini menyulitkan mereka untuk mengakumulasi kekayaan.
Baca juga: Kunto Aji: Artis Tak Perlu Perlakuan Istimewa di DPR
Studi sebelumnya menemukan perbedaan yang mencolok antara kekayaan pemilik rumah dan penyewa. Pemilik rumah dapat mengakumulasi kekayaan hingga 40 kali lebih besar daripada penyewa, menunjukkan dampak positif kepemilikan rumah terhadap kesehatan finansial.
Pada tahun 2023, hanya sekitar 39% penyewa yang mencatat arus kas positif, sementara lebih dari setengah pendapatan mereka digunakan untuk biaya sewa dan utilitas, yang menghambat kesempatan untuk menabung.
Kondisi ini menciptakan siklus menyewa yang sulit diputus, di mana penyewa sering kali tidak memiliki kesempatan untuk memiliki rumah dan meningkatkan status finansial mereka.
Ketimpangan dalam kepemilikan rumah juga mengungkapkan isu rasial yang mendalam. Hanya 46% warga kulit hitam di AS yang memiliki rumah jika dibandingkan dengan 75% warga kulit putih, menunjukkan adanya ketidakadilan struktural.
Data menunjukkan bahwa permohonan kredit pemilikan rumah oleh peminjam kulit hitam memiliki tingkat penolakan yang lebih tinggi dibanding peminjam kulit putih, menandakan adanya diskriminasi dalam sektor perumahan.
Para analis Goldman Sachs menyimpulkan bahwa regulasi lokal yang ketat membatasi pasokan rumah di wilayah yang sangat diminati. "Dalam jangka pendek, pemberian subsidi untuk pembangunan rumah terjangkau dapat menjadi solusi yang realistis," tulis mereka.
Baca juga: Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang Cozy Dengan Beberapa Trik Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: