Prabowo Tekankan Pentingnya Sejarah bagi Kepemimpinan Indonesia
Presiden Prabowo Subianto mengingatkan para pemimpin di Indonesia akan pentingnya memahami sejarah dalam menghadapi tantangan negara yang beragam. Hal ini disampaikan saat Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Bogor.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan pentingnya komitmen para pemimpin untuk memahami harapan rakyat dalam menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis di tengah keragaman.
Prabowo Subianto menggarisbawahi bahwa kepemimpinan harus berlandaskan pemahaman sejarah sebagai pondasi bagi pengabdian kepada rakyat. Ia mengingatkan semua pemimpin untuk menyadari peran penting mereka dalam memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.
Menurut Prabowo, keraguan terhadap eksistensi Indonesia sebagai negara kesatuan disebabkan oleh perbedaan etnis, ras, agama, dan bahasa. Meski demikian, ia menegaskan bahwa negara ini tetap utuh dan terus berfungsi.
Banyak yang berpendapat, 'Indonesia tidak mungkin, an impossible nation,' mengisyaratkan perlunya kesatuan visi untuk mengatasi perbedaan yang ada.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Prabowo menekankan bahwa rakyat mendambakan pemimpin yang jujur dan berkomitmen untuk kepentingan umum, bukan golongan tertentu. Dalam pandangannya, seorang pemimpin harus memiliki integritas dan bisa diandalkan.
Dia juga menyatakan bahwa masyarakat berharap akan kehidupan yang damai dan harmoni, dan para pemimpin harus menyadari tanggung jawab ini.
Dalam pidatonya, Prabowo mengingatkan, 'Mereka yang melupakan sejarah akan dihukum oleh sejarah,' menggarisbawahi pentingnya belajar dari masa lalu untuk kepemimpinan yang baik.
Prabowo juga berbicara tentang isu global, mengungkapkan keprihatinan terhadap negara-negara yang mengklaim mendukung demokrasi dan hak asasi manusia. Ia menunjukkan banyak tragedi kemanusiaan terjadi tanpa tindakan nyata dari negara-negara tersebut.
Dia menekankan, 'Puluhan ribu wanita, orang tua, anak-anak tidak berdosa dibantai,' mengkritik ketidakberdayaan sejumlah negara dalam menanggapi krisis tersebut.
Ia berpendapat bahwa pemimpin Indonesia harus peka terhadap situasi global dan wajib mengambil pembelajaran dari sejarah untuk menjaga stabilitas dalam negeri.
Baca juga: Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online: Komnas HAM temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: