Antisipasi Virus Nipah: Kelelawar dan Kesehatan Masyarakat di Indonesia
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap virus Nipah meskipun belum terdeteksi di Indonesia. Keanekaragaman spesies kelelawar di tanah air menjadi perhatian karena dapat meningkatkan potensi penularan.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tersendat di Kualifikasi Piala Asia, Berakhir Imbang Melawan Laos
Deteksi dini dan surveilans dianggap penting untuk mencegah penyebaran virus berbahaya ini. Dengan meningkatkan langkah-langkah proaktif, diharapkan dampak negatif bagi kesehatan manusia dapat diminimalkan.
Menurut Niluh Putu Indi Dharmayanti, peneliti Utama Virologi di BRIN, beberapa spesies kelelawar berpotensi sebagai reservoir alami virus Nipah. Spesies yang dekat dengan permukiman manusia berisiko tinggi untuk menularkan virus ini.
Niluh menjelaskan, "Kedekatan habitat kelelawar dengan permukiman manusia, praktik perburuan dan perdagangan kelelawar, serta keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang buruk meningkatkan risiko terjadinya spillover virus ke manusia dan hewan domestik."
Populasi babi yang tinggi di beberapa daerah juga dapat berfungsi sebagai inang dan meningkatkan risiko penularan virus. Oleh karena itu, surveilans dan deteksi dini harus ditingkatkan untuk mengurangi dampak wabah.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Dengarkan Aspirasi Mahasiswa dalam Pertemuan di Senayan
Penularan virus Nipah umumnya terjadi saat manusia berinteraksi langsung dengan kelelawar atau hewan yang terinfeksi. Selain itu, konsumsi daging kelelawar yang terpapar virus juga dapat mengakibatkan kontaminasi.
Niluh menegaskan, "Keberadaan NiV di negara-negara tetangga tersebut memperkuat kekhawatiran akan potensi kemunculan wabah di Indonesia."
Sebuah studi baru-baru ini menemukan virus Nipah terdeteksi pada kelelawar di pasar hewan Yogyakarta dan Magelang, mengindikasikan kemungkinan adanya penularan lokal. Hal ini menjadi sinyal bahwa penyebaran virus dapat menjadi ancaman serius.
Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa perubahan iklim berpotensi memperluas area jangkauan kelelawar pembawa virus. Dengan demikian, lebih banyak komunitas bisa berisiko untuk terinfeksi.
UN Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) mencatat, "Suhu yang meningkat akibat perubahan iklim membuat berbagai lokasi menjadi pilihan hunian kelelawar, dan memaksa manusia serta ternak tinggal di daerah yang sama dengan kelelawar tersebut."
Meskipun kasus Nipah pada manusia jarang, perubahan pola cuaca dan stres lingkungan dapat mempengaruhi perilaku kelelawar, meningkatkan kemungkinan spillover virus.
Baca juga: Deddy Mahendra Desta Dukung Tuntutan 17+8 di Tengah Kontroversi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: