Tragedi Cisarua: 23 Prajurit Marinir Gugur Akibat Longsor, Evakuasi Masih Berlanjut
TNI Angkatan Laut mengkonfirmasi bahwa 23 prajurit Jalasena dari Korps Marinir gugur dalam bencana longsor di Cisarua, Bandung Barat, saat pelaksanaan Latihan Pratugas Satgas Pamtas RI-PNG.
Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Terkait Kematian Ojol: Kompol Cosmas Dinyatakan Melanggar Etika
Bencana yang disebabkan oleh cuaca ekstrem ini mengakibatkan lima prajurit berhasil dievakuasi, sementara pencarian 18 prajurit lainnya masih berlanjut hingga kini.
Bencana longsor terjadi pada Sabtu (24/01) dan langsung memicu kepanikan di kalangan prajurit yang tengah berlatih. Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, menyampaikan bahwa tim SAR gabungan diterjunkan untuk mencari dan mengevakuasi korban.
Hingga Rabu (28/01), tim evakuasi berhasil mengangkat lima jenazah prajurit dari lokasi longsor. 'Hingga hari ini, tim SAR gabungan dan prajurit TNI AL yang ada di lokasi berhasil mengevakuasi 5 jenazah prajurit,' ungkap Kadispenal Laksamana Pertama Tunggul dalam pernyataannya.
Dalam proses evakuasi, kelima prajurit yang sudah ditemukan termasuk Serda Marinir Sidiq Hariyanto dan Praka Marinir Muhammad Koriq, di mana jenazah mereka telah dikirim ke daerah asal untuk diserahkan kepada keluarga dan dimakamkan secara militer.
Baca juga: Kunto Aji: Artis Tak Perlu Perlakuan Istimewa di DPR
Untuk mempercepat proses pencarian dan evakuasi, TNI AL telah menerjunkan sedikitnya 200 personel Marinir yang bekerja sama dengan berbagai institusi. Dukungan logistik dilakukan lewat penggunaan teknologi modern, termasuk drone dan alat berat, guna menyisir area longsor yang sulit diakses.
Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali menjelaskan, 'Dedikasi dan loyalitas ke-23 prajurit yang gugur dalam latihan ini merupakan wujud nyata pengorbanan tertinggi.' Keberadaan alat-alat modern diharapkan dapat mempercepat proses pencarian.
Tim evakuasi juga menggunakan anjing pelacak dan sensor thermal untuk menemukan jejak prajurit yang hilang. Walaupun kondisi cuaca dan medan yang berat, tim terus berupaya mencari para prajurit yang belum ditemukan.
TNI AL menegaskan akan memenuhi semua hak yang terkait dengan prajurit yang gugur dan keluarganya. 'TNI AL menjamin seluruh hak para prajurit yang gugur dan keluarga akan dipenuhi sepenuhnya,' demikian pernyataan resmi dari pihak institusi.
Komitmen ini mencakup pemberian santunan dan beasiswa untuk anak-anak korban hingga tingkat pendidikan tinggi. Selain itu, TNI juga mengupayakan pendampingan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan.
Praktik ini menunjukkan tekad TNI AL dalam mendukung keluarga yang mengalami kesedihan akibat tragedi ini dan menggarisbawahi betapa pentingnya perhatian institusi terhadap anggotanya.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru: Diduga Lakukan Provokasi Anarkis
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: