Potensi Luar Biasa Tempe Sebagai Superfood Indonesia
Tempe semakin dikenal sebagai superfood dengan potensi kesehatan yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan tempe tidak hanya sebagai sumber protein, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.
Baca juga: Adrian Wibowo: Sejarah Pemain Indonesia-Amerika di Major League Soccer
Berbagai manfaat kesehatan dari tempe, seperti sifat antidiare dan antidiabetik, menjadikannya fokus utama dalam pengembangan pangan fungsional di Indonesia. Dengan pengakuan ini, tempe dapat berperan penting dalam program-program kesehatan dan gizi masyarakat.
Tempe kini memiliki peran lebih dari sekadar lauk rumahan; ia menjadi potensi besar untuk mendukung program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Puji Lestari, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, menegaskan pentingnya tempe dalam pengembangan pangan fungsional.
Satriyo Krido Wahono, Kepala PRTPP BRIN, menjelaskan bahwa Indonesia dengan biodiversitas tinggi dapat menawarkan alternatif sumber protein melalui pengembangan produk tempe. "Tempe ini menjadi salah satu superfood Indonesia yang akan kami eksplorasi lebih jauh," jelasnya.
Dengan adanya riset yang terfokus pada tempe, diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas tempe sebagai produk pangan. Hal ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat akan nutrisi berkualitas.
Baca juga: Staf KBRI Lima, Zetro Leonardo Purba, Meninggal Dunia Akibat Penembakan
Tempe memiliki berbagai manfaat kesehatan yang signifikan. Menurut Puji Lestari, tempe memiliki sifat sebagai antidiare, antidiabetik, antihipertensi, antikanker, antioksidan, hingga antibakteri. "Ini penting bagi pengembangan pangan fungsional yang mendukung kesehatan masyarakat," katanya.
Dalam upaya meningkatkan manfaat ini, kaji ulang peran mikroba dan teknologi bioproses juga menjadi penting. Andri Frediansyah dari PRTPP BRIN menyebutkan, isoflavon kedelai yang awalnya berada dalam bentuk glikosida dapat dikonversi menjadi bentuk aglikon yang lebih mudah diserap tubuh.
Proses fermentasi melalui kapang Rhizopus dan bakteri memungkinkan konversi ini terjadi lebih efisien, berpotensi meningkatkan bioaktivitas isoflavonoid dalam produk kedelai.
Teknologi yang mendukung konversi isoflavon mencakup ko-fermentasi, proses germinasi, serta penggunaan fisika seperti ultrasound dan high pressure processing. Menurut Fred, teknik-teknik ini bekerja memecah struktur sel sehingga enzim alami pada kedelai lebih mudah mengonversi isoflavon glikosida menjadi aglikon.
"Proses seperti ultrasound, high pressure, ataupun pulsed electric field dapat membantu memecah dinding sel sehingga enzim dan isoflavon glikosida bertemu dan menghasilkan aglikon," jelasnya.
Pendekatan ini diharapkan akan menghasilkan produk berbasis kedelai dengan kandungan aglikon yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan efektivitasnya sebagai superfood bagi masyarakat.
Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: