Kemampuan Mandiri Indonesia dalam Penanganan Bencana: Studi Kasus Aceh dan Sumatera
Penanganan bencana di Aceh dan Sumatera menjadi satu bukti nyata kemandirian finansial negara dalam situasi darurat.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia dan Siap Perkuat Timnas
Kantor Staf Presiden (KSP) menyatakan bahwa anggaran penanganan kali ini jauh melampaui bantuan internasional pada tsunami Aceh.
Tenaga Ahli Utama Kedeputian II KSP, Respiratori Saddam Al Jihad, mengungkapkan anggaran untuk bencana saat ini mencapai Rp 60 triliun dari pemerintah pusat.
Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan bantuan asing saat tsunami Aceh, yang hanya berkisar Rp 42,9 triliun.
Hal ini mencerminkan kemampuan pemerintah Indonesia dalam mengalokasikan sumber daya sendiri untuk penanganan bencana.
“Ini menunjukkan negara hari ini siap dan mampu mengendalikan penanganan bencana secara mandiri,” ungkap Respiratori dalam sebuah program.
KSP menekankan bahwa diskusi mengenai status 'bencana nasional' tidak berpengaruh terhadap kinerja di lapangan.
Baca juga: Adrian Wibowo: Sejarah Pemain Indonesia-Amerika di Major League Soccer
Respiratori memastikan bahwa operasi tanggap darurat telah dimulai secara nasional sejak detik pertama kejadian bencana.
Semua elemen kekuatan negara, termasuk TNI, Polri, Basarnas, dan BNPB, terlibat dalam evakuasi dan distribusi logistik.
Mobilisasi semua potensi ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dalam penanganan bencana.
Pemerintah kini memasuki fase pemulihan, dengan ribuan hunian sementara sedang dipersiapkan di daerah yang terdampak parah di Sumatera.
KSP menyoroti bahwa pengalaman dari bencana masa lalu menjadi pelajaran penting bagi Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: