Ketua Umum PBNU Berkunjung ke Pesantren Lirboyo di Tengah Ketegangan Internal
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, atau Gus Yahya, dijadwalkan untuk hadir di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur pada hari ini, Kamis (27/11). Pertemuan ini berlangsung seiring ketegangan yang tengah melanda Nahdlatul Ulama, menyusul adanya perubahan signifikan dalam kepemimpinan organisasi tersebut.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool, Bursa Transfer Musim Panas Berakhir
Gus Yahya menyampaikan bahwa pemanggilan ini bertujuan untuk membahas isu internal di dalam organisasi. Ia juga mengungkapkan bahwa komunikasi dengan Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar, masih terhambat lantaran belum adanya balasan dari permintaan audiensinya.
Ketegangan dalam tubuh Nahdlatul Ulama kian meningkat setelah rapat harian Syuriyah yang digelar pada 20 November 2025. Rapat tersebut berujung pada surat edaran yang meminta Gus Yahya untuk mundur sebagai Ketua Umum PBNU dalam waktu tiga hari setelah keputusan tersebut disampaikan.
Menghadapi situasi ini, Gus Yahya mengecam keputusan yang diambil tanpa memberinya kesempatan untuk memberikan klarifikasi. Ia menyesalkan, 'Saya dilarang memberikan klarifikasi. Itu yang paling saya sesalkan,' menandakan adanya ketidakpuasan terhadap proses yang dianggap tidak transparan.
Ketidakpuasan Gus Yahya juga didasari oleh tuduhan yang dialamatkan padanya tanpa adanya langkah komunikasi yang berarti. Hal ini menggambarkan adanya ketidakselarasan dalam pengambilan keputusan di lingkungan PBNU.
Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan
Surat edaran yang menyatakan bahwa Gus Yahya tidak lagi berstatus Ketua Umum, ditandatangani oleh Wakil Rais Aam PBNU, Afifuddin Muhajir, dan Katib Ahmad Tajul Mafakhir. Dalam merespons hal ini, Gus Yahya menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak sah berdasarkan konstitusi organisasi.
Ia menegaskan, 'Saya masih tetap dalam jabatan saya sebagai Ketua Umum berdasarkan konstitusi organisasi dan juga berdasarkan pengakuan dari seluruh jajaran pengurus NU di semua tingkatan di seluruh Indonesia.' Ini menunjukkan kepercayaan diri Gus Yahya terhadap legitimasi posisinya di organisasi.
Sikapnya yang meragukan keabsahan surat tersebut mencerminkan adanya perpecahan yang lebih dalam di dalam organisasi Nahdlatul Ulama, yang sudah berdiri lebih dari satu abad ini, dan situasi ini menjadi perhatian besar bagi para anggota.
Gus Yahya menunjukkan komitmennya untuk menuntaskan permasalahan yang dihadapi oleh PBNU. Ia telah berusaha untuk menghubungi Miftachul Akhyar, berharap dapat mengatur pertemuan untuk membahas solusi atas konflik ini, meski hingga kini belum memperoleh respons.
Dalam sebuah pernyataan, ia menyebutkan, 'Mungkin pada satu titik saya akan kirim pesan lagi untuk minta menghadap ya,' mengindikasikan bahwa ia tidak akan menyerah dalam mencari jalan tengah. Keinginan ini juga mencerminkan harapannya akan pemulihan stabilitas di organisasi.
Dalam situasi yang penuh ketegangan ini, upaya Gus Yahya untuk memfasilitasi pertemuan internal bisa menjadi langkah awal dalam meredakan konflik dan mendorong dialog positif di dalam organisasi, yang dikenal dengan kontribusinya di bidang keagamaan dan sosial.
Baca juga: Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Eko Patrio Berlanjut
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: