Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menyebut kematian jurnalis Jamal Khashoggi sebagai 'kesalahan besar' dalam pernyataannya di Gedung Putih, Washington DC.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru Peroleh Sorotan Tajam dari Komnas HAM dan DPR
Kunjungan ini menjadi yang pertama sejak insiden tragis yang terjadi pada 2018, di mana Dinas Intelijen AS menilai bahwa operasi tersebut kemungkinan dilakukan dengan pengetahuan MBS.
Setibanya di Gedung Putih, Pangeran Mohammed bin Salman disambut dengan penghormatan seremonial yang megah, termasuk tembakan meriam dan fly-over jet tempur. Ia mengumumkan bahwa investasi Arab Saudi di AS akan meningkat dari US$600 miliar menjadi US$1 triliun.
Dalam pertemuan ini, tidak hanya isu investasi yang diangkat, namun juga pelanggaran hak asasi manusia yang menjadi sorotan dalam laporan internasional. Kunjungan ini mencerminkan upaya Saudi untuk memperkuat hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat, di tengah kecaman yang terus berlanjut mengenai catatan hak asasi manusia di kerajaan tersebut.
Baca juga: Deddy Mahendra Desta Dukung Tuntutan 17+8 di Tengah Kontroversi
Saat ditanya mengenai kematian Khashoggi, Pangeran Mohammed bin Salman mengungkapkan rasa duka dan tanggung jawab, mengatakan, 'Kematiannya menyakitkan, sebuah kesalahan yang sangat besar, dan kami berusaha memastikan itu tidak terjadi lagi.'
Pernyataan ini muncul di tengah reaksi beragam terhadap insiden tersebut. Presiden Donald Trump, dalam konteks yang sama, menyebut Khashoggi sebagai sosok yang 'sangat kontroversial' dan menegaskan bahwa MBS 'tidak tahu apa-apa' mengenai operasi tersebut, menunjukkan upaya menjaga hubungan baik AS-Saudi meskipun adanya kritik.
Donald Trump menyarankan Saudi untuk bergabung dengan Abraham Accords, yang merupakan inisiatif normalisasi hubungan dengan Israel. Pangeran Mohammed bin Salman berkomitmen untuk mewujudkan normalisasi ini 'secepat mungkin', menandakan pergeseran dalam kebijakan luar negeri Saudi.
Selain itu, Gedung Putih juga mengonfirmasi penjualan senjata termasuk jet tempur F-35 kepada Saudi. Langkah ini menimbulkan perdebatan di kalangan pemerintah AS mengenai implikasi terhadap keamanan Israel serta risiko teknologi yang jatuh ke tangan pihak-pihak yang tidak diinginkan.
Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: