Mengenal Sleep Apnea: Gejala, Risiko, dan Penanganan
Tidur yang berkualitas menjadi kunci kesehatan, namun banyak orang masih terbangun dengan rasa lelah meski sudah tidur semalaman. Salah satu penyebab utama yang mungkin kurang diketahui adalah Sleep Apnea, sebuah kondisi yang dapat membuat penderitanya merasa lelah sepanjang hari.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Melanjutkan Perjalanan ke China Usai Kerusuhan
Sleep Apnea ditandai dengan terhentinya napas secara berulang saat tidur, berpotensi mengganggu pasokan oksigen dan menyebabkan masalah kesehatan serius. Penelitian dari Ontario Sleep Care menunjukkan bahwa mendengkur sering kali merupakan sinyal awal adanya gangguan ini.
Gejala utama Sleep Apnea sering kali meliputi rasa lelah saat terbangun, meski durasi tidur dianggap cukup. Hal ini bisa diikuti dengan kebutuhan untuk tidur siang di siang hari, menunjukkan bahwa tidur malam tidak berkualitas.
Cody Allen, direktur operasional dari Ontario Sleep Care, menuturkan, "Yang paling umum adalah mendengkur. Ketika orang mulai mendengkur, itu semacam tanda bahaya." Ini menunjukkan bahwa meski tidak semua orang yang mendengkur mengalami Sleep Apnea, gejala tersebut tetap relevan.
Selain mendengkur, penderita juga mengalami kesulitan berkonsentrasi dan risiko terkena masalah kesehatan lainnya. Allen menambahkan, "Jika Anda terus-menerus lelah dan tidak dapat bekerja sepanjang hari tanpa minum 10 cangkir kopi, itu adalah tanda bahaya."
Baca juga: Apple Siapkan Peluncuran iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Sleep Apnea cenderung lebih umum pada pria, terutama yang berusia paruh baya dan lanjut usia, serta mereka yang mengalami obesitas. Faktor-faktor seperti kelebihan berat badan, merokok, dan konsumsi alkohol juga meningkatkan risiko terjadinya gangguan ini.
Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti hipertensi dan sindrom metabolik, serta peningkatan berat badan yang signifikan. Gejala kelelahan di siang hari pun bisa mengurangi kualitas hidup secara keseluruhan.
Berdasarkan berbagai studi, Sleep Apnea dihubungkan dengan risiko yang lebih tinggi untuk mengalami stroke dan masalah kardiovaskular lainnya. Oleh karena itu, pemantauan dan penanganan yang tepat menjadi krusial untuk mencegah efek kesehatan jangka panjang.
Pengobatan utama untuk Sleep Apnea adalah penggunaan alat CPAP (Continuous Positive Airway Pressure). Allen menjelaskan, "Alat ini mungkin terasa aneh pada awalnya, di mana Anda harus tidur dengan selang yang terpasang." Meskipun awalnya tidak nyaman, alat ini terbukti dapat meningkatkan kualitas tidur secara signifikan.
Teknologi mesin CPAP terus berkembang pesat, seperti yang dijelaskan Allen, "Dulu terlihat seperti generator kecil, sekarang terlihat seperti laptop atau iPad. Ukurannya sangat kecil, sangat senyap." Perubahan ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan lebih bagi pengguna saat tidur.
Masker yang digunakan saat ini pun lebih ringan dan tidak mengganggu tidur. "Kini jauh lebih mudah bagi orang-orang untuk merasa nyaman mengenakan masker di wajah mereka di malam hari," tambah Allen, menegaskan pentingnya alat tersebut dalam pengelolaan Sleep Apnea.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat Bergabung dengan Klub Prancis Lille
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: