Meningkatkan Kualitas Tidur: Blue Light dan Kebiasaan Sebelum Tidur
Di era digital ini, banyak individu mengandalkan ponsel sebelum tidur demi mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Namun, penyebab susah tidur bisa jadi jauh lebih kompleks daripada sekadar paparan blue light dari perangkat elektronik.
Baca juga: Universitas Islam Bandung dan Universitas Pasundan Bantah Keterlibatan TNI-Polri di Kericuhan
Pelatih tidur bersertifikat, Vishal Dasani, menjelaskan bahwa meskipun blue light berperan, kebiasaan sebelum tidur yang sulit diubah menjadi faktor utama yang memengaruhi kualitas tidur.
Paparan blue light dari gadget sering dianggap sebagai penyebab utama kesulitan tidur. Namun, Coach Vishal menegaskan bahwa intensitas cahaya biru dari perangkat tidak cukup untuk mengganggu pola tidur tanpa faktor lain yang berkontribusi.
Ia menyatakan, "Ada benarnya, tapi sudah banyak studi juga yang menyebutkan blue light dari device itu sebetulnya tidak terlalu terang untuk bisa mengganggu atau menunda jadwal tidur kita." Hal ini menunjukkan perlunya pemahaman lebih dalam tentang intensitas blue light.
Keterlambatan tidur mungkin memang terjadi akibat penggunaan gadget yang berkepanjangan, namun tidak lebih dari 15 menit. Sebaliknya, kebiasaan buruk sebelum tidur lebih berpotensi memengaruhi kualitas tidur secara keseluruhan.
Baca juga: Presiden Prabowo Temui Pimpinan Serikat Pekerja Bahas Aksi Demonstrasi dan RUU
Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam sebelum tidur dengan aktivitas scrolling di media sosial atau menonton film. "Yang membuat screen ini menjadi masalah untuk tidur, itu adalah keputusan kita untuk doom scrolling, binge watching atau one more episode," jelas Coach Vishal.
Kebiasaan ini lebih bersifat individu dan berhubungan dengan ketidakmampuan untuk berhenti menggunakan gadget. Tanpa disadari, individu terjebak dalam siklus ini, sehingga mengorbankan waktu tidur mereka.
Kesadaran akan waktu yang terbuang saat beraktivitas di layar menjadi faktor penting dalam mengatur kualitas tidur. Mengubah kebiasaan ini bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas istirahat.
Vishal merekomendasikan aktivitas yang dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks sebelum tidur. Metode seperti stretching, berjalan santai, atau mendengarkan musik adalah beberapa cara yang dianjurkan.
"Bisa stretching, itu bisa. Terus bisa jalan santai, itu nge-rileksin juga, bisa dengerin musik, dengerin podcast, baca buku," ungkapnya. Aktivitas-aktivitas ini perlu dilakukan secara rutin agar otak dapat mengenali tanda-tanda untuk bersiap tidur.
Dengan menerapkan pendekatan ini, peningkatan kualitas tidur dapat dicapai tanpa ketergantungan pada obat atau minuman beralkohol. Konsistensi dalam menjalankan kebiasaan sehat sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal.
Baca juga: Menjelajahi Lima Kota Ramah untuk Liburan Sendirian di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: