Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) terus menunjukkan kemajuan yang signifikan, dengan harapan baru akan hadirnya kecerdasan umum buatan (AGI). Sam Altman, CEO OpenAI, menyatakan bahwa AGI yang setara dengan kecerdasan manusia semakin dekat dengan kenyataan.
Baca juga: Lee Min-sung Ajak Timnas Korea Selatan U-23 Siap Bersaing di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Dalam sebuah acara, Altman menjelaskan bahwa AGI memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mentransfer skill ke mesin lain. Di sisi lain, tantangan terkait konsumsi energi dan sumber daya juga menjadi sorotan di tengah pesatnya inovasi ini.
Kecerdasan Umum Buatan (AGI) dan Masa Depan Teknologi
Artificial General Intelligence (AGI) diharapkan dapat mampu berfungsi seperti kecerdasan manusia baik dalam hal beradaptasi maupun mentransfer kemampuan. Jika teknologi ini terwujud, AI tidak lagi memerlukan pelatihan konstan dan dapat menanggapi situasi baru secara efisien.
Altman juga memprediksi akan segera ada kecerdasan super (ASI) yang mampu mengatasi masalah jauh lebih baik daripada manusia. Model ini diharapkan dapat memberikan solusi inovatif untuk tantangan-tantangan kompleks yang dihadapi berbagai sektor.
Dengan cepatnya kemajuan ini, masyarakat perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang dapat berdampak positif, terutama di bidang kesehatan, pendidikan, dan industri.
Baca juga: Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Eko Patrio Berlanjut
Debat seputar Konsumsi Energi dan Sumber Daya AI
Pada diskusi mengenai pengembangan AI, Altman menyoroti isu konsumsi sumber daya, terutama air yang digunakan oleh pusat data. Ia mengklarifikasi bahwa informasi tentang penggunaan air yang berlebihan oleh AI adalah informasi yang keliru.
"Anda melihat hal-hal ini di internet yang mengatakan 'jangan gunakan ChatGPT, menghabiskan 17 galon air untuk tiap kueri' atau apapun. Ini sama sekali tidak benar, benar-benar gila, tidak ada hubungannya dengan kenyataannya," jelasnya.
Namun, Altman menekankan pentingnya beralih ke sumber energi terbarukan untuk mengatasi kekhawatiran tentang konsumsi energi yang meningkat seiring populernya AI saat ini.
Pusat Data Orbital: Sebuah Ide yang Tidak Masuk Akal
Mengomentari gagasan pusat data yang beroperasi di luar angkasa, Altman menunjukkan bahwa konsep ini tidak praktis untuk saat ini. Ia menegaskan bahwa gagasan tersebut tidak akan relevan dalam skala besar pada dekade ini karena tantangan biaya dan perawatan.
"Pusat data orbital tidak akan relevan dalam skala besar dekade ini, karena perhitungan kasar biaya peluncuran dan sulitnya memperbaiki GPU yang rusak di antariksa," imbuhnya.
Pernyataan ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi dalam mengembangkan teknologi AI dan mendukung infrastruktur yang diperlukan.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Insiden Perampokan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: