Senin, 23 FEBRUARI 2026 • 11:03 WIB

Dua Jenis Startup AI yang Mungkin Kehilangan Peminat di Masa Depan

Author

Dua Jenis Startup AI yang Mungkin Kehilangan Peminat di Masa Depan

Ledakan kecerdasan buatan (AI) generatif telah memicu pertumbuhan cepat berbagai startup, namun tidak semua model bisnis akan bertahan di pasar yang kompetitif ini.

Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia

Dua jenis startup yang diperkirakan akan kehilangan peminat di masa mendatang adalah LLM wrapper dan agregator AI.

Model Bisnis LLM Wrapper

LLM wrapper merupakan startup yang membangun produk berdasarkan model AI yang ada seperti GPT, Claude, atau Gemini tanpa memiliki hak kekayaan intelektual yang kuat.

Contoh dari model bisnis ini termasuk startup yang memanfaatkan AI untuk mendukung proses belajar mengajar bagi siswa.

Darren Mowry, VP Google Cloud, menyebutkan bahwa jika suatu startup hanya menciptakan 'cover' dari model AI yang sudah ada tanpa adanya diferensiasi yang jelas, masa depan mereka bisa suram.

Ia menekankan pentingnya untuk memiliki 'keunggulan kompetitif yang kuat dan luas' agar sebuah startup bisa bertahan dalam ekosistem yang semakin kompetitif.

Baca juga: Google Tanggapi Isu Keamanan Gmail Terkait Phishing

Kriteria Diferensiasi dalam Startup AI

Dua contoh LLM wrapper yang memiliki diferensiasi kuat adalah Cursor, yang berfungsi sebagai asisten pengkodean berbasis GPT, dan Harvey AI, yang mengkhususkan diri di bidang hukum.

Mowry menggarisbawahi bahwa memiliki diferensiasi yang jelas sangat penting untuk menciptakan nilai tambah yang dapat menarik minat pengguna.

Tanpa adanya pendekatan inovatif yang jelas, model bisnis ini berisiko kehilangan visibilitas di pasar yang semakin ramai.

Model Bisnis AI Aggregator dan Tantangannya

Model bisnis kedua yang diprediksi bakal sepi peminat adalah AI aggregator, yang menyatukan berbagai model AI dalam satu antarmuka atau API.

Perusahaan yang mengadopsi model ini seringkali menawarkan lapisan orkestrasi yang mencakup alat pemantauan dan evaluasi, meskipun terlihat menjanjikan di awal.

Namun, Mowry mencatat bahwa sekadar menawarkan akses ke banyak model tidaklah cukup, mengingat pengguna kini lebih mencari integrasi yang lebih kompleks yang mengandalkan konteks dan pemahaman domain.

Ia merekomendasikan agar perusahaan rintisan 'menjauhi bisnis agregator,' karena pengguna saat ini lebih menginginkan kekayaan intelektual yang terintegrasi untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Baca juga: Menjelajahi Lima Kota Ramah untuk Liburan Sendirian di Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU