Minggu, 28 DESEMBER 2025 • 18:00 WIB

Satu Miliar Perangkat Android Masih Rentan dengan Versi Lama

Author

Satu Miliar Perangkat Android Masih Rentan dengan Versi Lama

Lebih dari sepertiga pengguna Android di seluruh dunia masih menggunakan Android 13 atau versi yang lebih rendah, yang memunculkan keprihatinan serius terkait keamanan. Data menunjukkan bahwa sekitar satu miliar perangkat Android beroperasi tanpa perlindungan keamanan resmi yang terbaru dari Google.

Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Komitmen Terhadap Transparansi Anggaran

Masalah ini melibatkan bukan hanya kekurangan pembaruan fitur, tetapi juga risiko ancaman dari penjahat siber. Dengan lebih dari separuh perangkat mobile global menggunakan sistem operasi usang, keamanan pengguna berada dalam bahaya.

Kondisi Pengguna Android Terkini

Menurut data terbaru, lebih dari sepertiga pengguna Android di dunia masih menggunakan Android 13 atau sistem operasi di bawahnya. Ini menunjukkan bahwa banyak pengguna tidak memanfaatkan versi terbaru yang menawarkan fitur serta pembaruan keamanan yang lebih baik.

Data dari StatCounter mengindikasikan sebanyak satu miliar perangkat Android tidak mendapatkan pembaruan resmi dari Google. Situasi ini memunculkan keprihatinan yang serius, terutama terkait dengan keamanan informasi pengguna.

Berdasarkan laporan Zimperium, ada peringatan bahwa perangkat yang tidak menerima patch keamanan rutin menjadi target empuk bagi penjahat siber. Mereka dapat mengeksploitasi celah keamanan yang ada, menempatkan data pribadi pengguna dalam risiko.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia dan Siap Perkuat Timnas

Dampak Keterlambatan Pembaruan

Satu dampak nyata dari keterlambatan pembaruan adalah meningkatnya risiko bagi pengguna ponsel lama yang tidak lagi dapat diupdate. Sebagai contoh, patch keamanan yang dirilis pada Desember lalu berhasil menutup 107 celah keamanan, termasuk beberapa dengan risiko tinggi, yang tetap terbuka bagi perangkat yang tidak mendapatkan dukungan.

Kondisi ini memberikan ruang bagi para peretas untuk mencuri data pribadi, seperti informasi login dan data finansial. Oleh karena itu, panggilan untuk mengganti perangkat menjadi semakin mendesak di tengah ancaman yang terus berkembang.

Sebagai perbandingan, hanya sekitar 10 persen iPhone yang aktif di dunia yang tidak lagi menerima pembaruan perangkat lunak resmi. Menurut StatCounter, hal ini menunjukkan bahwa ekosistem Apple lebih mampu mengatasi masalah fragmentasi yang menjadi salah satu penyebab lambatnya proses pembaruan Android.

Fragmentasi di Ekosistem Android

Fragmentasi dalam ekosistem Android, di mana ratusan produsen menggunakan variasi chipset dan antarmuka masing-masing, semakin menyulitkan distribusi pembaruan. Setiap pembaruan harus disesuaikan dengan spesifikasi perangkat keras, sehingga menyebabkan keterlambatan dalam pengiriman patch keamanan.

Security Boulevard menyatakan bahwa kondisi ini menciptakan risiko tinggi, karena meskipun kerentanan sudah diketahui publik, perangkat-perangkat tersebut masih dapat dieksploitasi. Hal ini memberikan kesempatan bagi penjahat siber untuk mengeksploitasi jutaan perangkat yang rentan.

James Maude dari BeyondTrust mengungkapkan bahwa celah yang awalnya terlihat terbatas bisa berkembang menjadi alat serangan massal. Begitu celah tersebut diketahui secara luas, penyerangan terhadap perangkat-perangkat tersebut akan semakin intensif.

Baca juga: Lee Min-sung Ajak Timnas Korea Selatan U-23 Siap Bersaing di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU