Ambisi Elon Musk untuk mengisi orbit Bumi dengan konstelasi satelit Starlink kini menimbulkan masalah baru, yaitu jatuhnya satelit-satelit tersebut ke permukaan Bumi secara berkala.
Baca juga: Deddy Mahendra Desta Dukung Tuntutan 17+8 di Tengah Kontroversi
Ahli astrofisika Jonathan McDowell mengungkapkan bahwa setiap hari terdapat 1-2 satelit Starlink yang jatuh, dan jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan peluncuran satelit-satelit baru.
Jumlah Satelit yang Jatuh Terus Meningkat
Jonathan McDowell, seorang ahli astrofisika di Smithsonian, mengungkapkan bahwa siklus hidup setiap satelit Starlink diperkirakan sekitar lima tahun.
Dengan perhitungan tersebut, McDowell menyimpulkan bahwa lima satelit usang akan jatuh setiap harinya, menambah risiko bagi permukaan Bumi.
Sejak peluncuran pertamanya pada 2019, SpaceX telah meluncurkan sekitar 8.000 satelit Starlink yang berfungsi sebagai infrastruktur internet.
Namun, jumlah peluncuran ini menyebabkan potensi jatuhnya satelit semakin meningkat, menciptakan tantangan baru bagi keselamatan manusia dan lingkungan.
Risiko Serpihan dan Implikasi Lingkungan
Laporan dari Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) menyatakan bahwa kemungkinan sekitar 28.000 serpihan satelit akan menembus atmosfer setiap tahun pada 2025.
Baca juga: Sidang Etik Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online: Tindakan Berat di Lingkungan Polri
Dengan meningkatnya jumlah serpihan tersebut, risiko terhadap keselamatan manusia pun meningkat, dengan kemungkinan 61 persen cedera atau bahkan kematian akibat serpihan satelit.
Selain risiko tersebut, proses pembakaran satelit saat memasuki atmosfer juga berpotensi memproduksi elemen logam yang bisa merusak lapisan ozon.
McDowell menekankan, 'Ketidakpastian soal masalah ini cukup besar, ada kemungkinan seluruh atmosfer lapisan atas rusak.'
Sindrom Kessler: Ancaman yang Lebih Besar
Di balik jatuhnya satelit, ada ancaman yang lebih besar, yaitu sindrom Kessler, yang terjadi akibat orbit yang padat dengan satelit.
Ketika beberapa satelit bertabrakan, dampaknya dapat memicu serangkaian tabrakan antara satelit lainnya, yang pada gilirannya menghasilkan lebih banyak sampah di orbit.
Fenomena ini merugikan dan dapat menciptakan medan bahaya yang mengelilingi Bumi, semakin memperparah situasi yang sudah kritis ini.
Sindrom Kessler menjadi perhatian yang serius bagi ilmuwan dan pihak berwenang untuk mencegah lingkungan luar angkasa menjadi semakin tidak berkelanjutan.
Baca juga: Adrian Wibowo: Sejarah Pemain Indonesia-Amerika di Major League Soccer
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: