Kementerian Keuangan Mengandalkan Hacker Lokal untuk Keamanan Cyber Coretax
Kementerian Keuangan Indonesia tengah memperkuat keamanan siber sistem Coretax dengan melibatkan hacker berpengalaman dari dalam negeri. Langkah ini diambil untuk menguji kekuatan sistem agar lebih tahan terhadap serangan siber.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tersendat di Kualifikasi Piala Asia, Berakhir Imbang Melawan Laos
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa keahlian lokal sangat penting, dan para hacker Tanah Air diundang untuk memastikan keamanan infrastruktur digital.
Purbaya mengungkapkan bahwa hacker-hacker Tanah Air yang terampil diakui secara internasional untuk menguji Coretax. "Kita juga sudah panggil hacker kita, yang jago-jago orang Indonesia ya, bukan orang asing," katanya dalam sebuah media briefing.
Ini menunjukkan bahwa Kementerian Keuangan lebih memilih memanfaatkan keahlian lokal daripada mengandalkan pihak luar. "Anda jangan kira loh, orang Indonesia tuh hackernya jago-jago banget, di dunia juga ditakutin rupanya," tambahnya.
Meskipun Coretax telah dikembangkan selama empat tahun oleh perusahaan asing, Purbaya mengindikasikan bahwa kurangnya pengawasan mutu menyebabkan banyak masalah krusial tetap ada. "Pihak asing yang ditunjuk bahkan tidak bisa menyelesaikan masalah kritis dari Coretax," ungkapnya.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Terbaru dalam Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton Optimal
Ketika tim Kementerian Keuangan melakukan pemeriksaan, Purbaya menemukan hasil yang tidak memuaskan. "Komentarnya lucu deh, begitu mereka dapet source codenya, dilihat sama orang saya. Dia bilang: wah ini programmer tingkat baru lulusan SMA," ceritanya.
Ia mencatat bahwa pengembangan oleh pihak luar tidak memenuhi harapan dan sering kali mengabaikan kualitas. "Jadi ya memang Indonesia lah sering dikibulin asing," tegasnya.
Penemuan ini menyoroti pentingnya pengawasan dalam proyek besar, terutama yang melibatkan teknologi tinggi seperti Coretax.
Purbaya juga berbagi pengalaman mengenai proses perekrutan hacker. Ia menyoroti bahwa banyak hacker berbakat tanpa latar belakang pendidikan formal. "Kalau orang sekolah memang pasti nggak bisa jadi hacker. Karena pikirnya terstruktur," ujar Purbaya.
Salah satu hacker handal yang ia rekrut telah dilatih di Rusia selama enam bulan di tempat rahasia. "Dia dilatih di Rusia 6 bulan kali. Khusus di tempat tertutup di sana," ungkapnya.
Purbaya menunjukkan kepercayaannya kepada hacker tersebut berkat pengalaman positif mereka sebelumnya. Ia juga mencatat bahwa ada grup hacker terkenal yang digunakan untuk menguji sistem. "Jadi mereka biasa dipakai ngehack untuk tes Google dan lain-lain besar-besar," tutupnya.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru: Diduga Lakukan Provokasi Anarkis
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: