Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, memberikan tanggapan terhadap usulan pemindahan posisi gerbong khusus perempuan setelah insiden kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur.
Baca juga: Deddy Mahendra Desta Dukung Tuntutan 17+8 di Tengah Kontroversi
AHY menegaskan bahwa keselamatan publik harus menjadi prioritas utama dalam sistem transportasi publik untuk memberikan rasa aman bagi semua penumpang.
Keselamatan Sebagai Prioritas
Dalam pernyataannya, AHY menjelaskan, "Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat, menghadirkan rasa aman, nyaman, dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon, tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik."
Pernyataan ini menunjukkan komitmen untuk menciptakan sistem transportasi yang melindungi semua pengguna, baik perempuan maupun laki-laki, dari risiko kecelakaan.
AHY juga menegaskan bahwa insiden yang terjadi sebelumnya belum pernah dialami, sehingga perlunya peninjauan kembali untuk menjaga keselamatan dalam transportasi.
Investigasi Mengenai Kecelakaan
Menteri AHY telah meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melakukan penyelidikan menyeluruh atas kecelakaan yang terjadi.
Baca juga: Adrian Wibowo: Sejarah Pemain Indonesia-Amerika di Major League Soccer
"KNKT tadi sudah menyanggupi akan melakukan investigasi secara menyeluruh. Saya minta transparan, terbuka, bisa dijelaskan kepada publik," tuturnya.
Penyelidikan ini diharapkan tidak hanya mengeksplorasi penyebab kecelakaan, tetapi juga memeriksa kemungkinan gangguan pada sistem persinyalan.
AHY juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat mengenai keselamatan transportasi untuk menghindari kecelakaan serupa di masa depan.
Solusi Jangka Panjang untuk Keselamatan Transportasi
Sebagai langkah jangka panjang, AHY mengusulkan pembangunan infrastruktur seperti jalan layang dan terowongan di area pelintasan sebidang yang padat.
"Selebihnya kita ingin memastikan juga hadir solusi infrastruktur. Misalnya, ketika ada lintasan-lintasan sebidang yang memang sangat padat di sejumlah kota, itu perlu kita bangun flyover atau underpass," ujarnya.
Inisiatif ini diharapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan di masa depan, dan menjaga keselamatan penumpang.
Kecelakaan yang terjadi pada 27 April 2026, memperlihatkan bahwa ada 15 penumpang KRL yang meninggal dan 81 lainnya mengalami luka-luka, menunjukkan urgensi langkah yang nyata dalam meningkatkan keselamatan sistem transportasi.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo di Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: