Iran menolak melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya situasi tegang di kawasan. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menekankan bahwa negosiasi tidak seharusnya dilakukan di bawah tekanan.
Baca juga: Adrian Wibowo: Sejarah Pemain Indonesia-Amerika di Major League Soccer
Jabatan Ghalibaf mencerminkan kegundahan terkait perlakuan Amerika yang dianggap mengancam proses diplomasi. Ia menyatakan bahwa kebijakan yang diambil AS justru merugikan perdamaian dan stabilitas.
Kritik Terhadap Kebijakan AS
Ghalibaf secara terbuka mengkritik Presiden Trump atas keputusan yang dianggap merugikan, terutama terkait kebijakan blokade di Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah disepakati.
Lebih lanjut, Ghalibaf menekankan bahwa ancaman yang berasal dari AS berupaya menjadikan perundingan sebagai 'meja penyerahan diri atau untuk membenarkan perang'. Ini jelas mencerminkan ketidakpuasan Iran dan komitmennya untuk tidak berkompromi.
Dalam perkembangan lebih lanjut, Ghalibaf mengungkapkan bahwa Iran telah mempersiapkan opsi militer yang baru seandainya gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan berakhir. Poin ini menunjukkan bahwa Iran tidak berencana untuk menjadi santai menghadapi potensi eskalasi yang dapat terjadi.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengejutkan
Kondisi Terkini di Selat Hormuz
AS saat ini masih mempertahankan blokade angkatan laut di sekitar kapal-kapal yang beroperasi dari pelabuhan Iran. Tindakan ini dianggap oleh pihak Iran sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati.
Baru-baru ini, media massa Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz sempat dibuka kembali untuk lalu lintas maritim. Namun, hanya dalam waktu singkat, situasi kembali memburuk ketika Iran membatasi lagi pergerakan kapal-kapal.
Media pemerintah Iran menekankan bahwa Amerika belum memenuhi kewajibannya dalam perjanjian yang ada, yang semakin menambah ketegangan di kawasan yang sudah penuh dengan konflik ini.
Pertemuan Pertama AS dan Iran
Pakistan baru-baru ini menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi antara perwakilan AS dan Iran pada 11-12 April, yang merupakan langkah pembuka dalam penggalangan hubungan diplomat yang telah terputus sejak 1979. Meskipun demikian, tidak ada terobosan signifikan yang dicapai dalam pertemuan tersebut.
Pernyataan Trump untuk mengirim perwakilan AS ke Islamabad dilakukan tanpa ada jaminan keterlibatan dari Iran. Hal ini menciptakan suasana keraguan di pihak Tehran terhadap komitmen AS dalam proses negosiasi.
Situasi ini menunjukkan kesulitan dalam mencapai konsensus antara kedua belah pihak, yang dapat memperparah ketegangan yang sudah ada apalagi ketika dihadapkan pada kebijakan yang saling menentang.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa BEM SI Dipastikan Digelar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: