Senin, 13 APRIL 2026 • 11:56 WIB

Kebuntuan Diplomatik: Penyebab Gagalnya Pembicaraan AS dan Iran di Islamabad

Author

Kebuntuan Diplomatik: Penyebab Gagalnya Pembicaraan AS dan Iran di Islamabad

Pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, menunjukkan kebuntuan dalam diplomasi di tengah konflik yang meningkat sejak akhir Februari 2026.

Baca juga: Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online: Komnas HAM temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Negosiasi yang berlangsung selama hampir 21 jam ini tidak membuahkan hasil, meskipun dihadiri oleh pejabat tinggi kedua negara dan difasilitasi oleh Pakistan.

Fokus Pembicaraan yang Tidak Sesuai

Salah satu alasan utama di balik kegagalan ini adalah adanya fokus pembicaraan yang lebih berputar pada masa lalu ketimbang masa depan. AS menekankan isu-isu terkait program nuklir dan kebebasan navigasi, sedangkan Iran mengajukan tuntutan kompensasi serta pengakuan akan kepentingan regionalnya.

"Secara formal mereka bicara masa depan, tapi substansinya memperdebatkan masa lalu," ungkap Murad Sadygzade, seorang pakar di bidang studi Timur Tengah. Hal ini menyebabkan para negosiator terjebak dalam narasi sejarah konflik yang berkepanjangan, tanpa mampu bergerak ke arah solusi yang lebih konstruktif.

Baca juga: Kunto Aji: Artis Tak Perlu Perlakuan Istimewa di DPR

Ketiadaan Kepercayaan

Absennya kepercayaan menjadi penghalang utama dalam proses negosiasi ini. Retorika yang disampaikan oleh pihak Amerika, seperti "penawaran terbaik dan terakhir", ditafsirkan oleh Iran sebagai sebuah ultimatum.

"Nada seperti itu bukan undangan damai, melainkan bentuk superioritas yang justru menutup ruang kompromi," jelas Murad, menyoroti ketegangan yang muncul. Akibatnya, kedua belah pihak terjebak dalam posisi defensif, yang selanjutnya menghambat penyelesaian konflik.

Kondisi Geopolitik dan Domestik

AS memasuki meja perundingan dalam keadaan terdesak, dengan konflik yang berkepanjangan mengguncang pasar energi dan menambah tekanan pada ekonomi global. Menurut Murad, "Washington membutuhkan jeda lebih dari yang ingin mereka akui."

Di sisi lain, tekanan politik domestik di AS juga mempersempit ruang gerak untuk negosiasi yang efektif. Peraturan hukum mengenai penggunaan kekuatan militer serta perpecahan politik internal memperburuk posisi pemerintah.

"Ketika satu pihak tertekan oleh waktu politik domestik, insentif untuk mengalah justru menurun," tambah Murad, menyoroti tantangan yang dihadapi AS dalam proses ini.

Baca juga: Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Eko Patrio Berlanjut

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU