Harga minyak mentah dunia telah melampaui angka USD 100 per barel pada Minggu (8/3) akibat ketegangan yang ditimbulkan oleh konflik antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Ahmad Sahroni: Polisi Kembali Barang yang Hilang
Kenaikan ini mencatatkan rekor tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina, yang diperkirakan berdampak signifikan terhadap perekonomian global.
Lonjakan Harga Minyak dan Implikasinya
Kenaikan harga ini didorong oleh kekhawatiran investor mengenai konsekuensi jangka panjang dari konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Minyak mentah jenis Brent tercatat naik 12,63 persen menjadi USD104 per barel, sedangkan minyak mentah AS mengalami kenaikan 14,7 persen.
Kenaikan harga ini berpotensi mengguncang pasar energi secara global dan menyebabkan inflasi, khususnya di Amerika Serikat.
Indeks saham di pasar Amerika mulai menunjukkan dampak nyata, di mana indeks Dow Jones mengalami penurunan 851,6 poin atau sekitar 2 persen.
Respons Pemerintah AS dan Pihak Terkait
Menanggapi masalah ini, pemerintah AS berusaha menenangkan pasar dengan menyatakan bahwa lonjakan harga bensin hanyalah gangguan kecil.
Baca juga: Kunto Aji Serukan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Kesadaran Masyarakat
Presiden AS, Donald Trump, menyebut lonjakan harga minyak sebagai pengalihan yang sudah diprediksi sebelumnya.
Namun, Menteri Energi Chris Wright menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk menyerang infrastruktur energi Iran, meskipun konflik tersebut terus berlanjut.
Di sisi lain, pihak Iran memperingatkan bahwa konflik telah masuk ke fase baru dan kemungkinan adanya balasan terhadap serangan yang berlangsung.
Dampak Ekonomi dan Fiskal
Kenaikan harga minyak memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap sektor anggaran negara.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah telah melakukan stres tes untuk menilai dampak lonjakan harga minyak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Jika harga minyak berada di level rata-rata USD92 per barel, defisit APBN diprediksi akan melebar hingga 3,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dengan kondisi yang tidak stabil ini, banyak produsen minyak terpaksa mengurangi hasil produksi, yang dapat memengaruhi pasokan pasar secara keseluruhan.
Baca juga: Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang Cozy Dengan Beberapa Trik Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: