Kamis, 05 MARET 2026 • 11:32 WIB

Potensi Serangan AS-Israel ke Turki: Ancaman Strategis di Timur Tengah

Author

Potensi Serangan AS-Israel ke Turki: Ancaman Strategis di Timur Tengah

Turki kini menjadi sorotan sebagai salah satu target yang mungkin diserang oleh Amerika Serikat dan Israel setelah Iran. Hal ini diungkapkan oleh Farhad Ibragimov, seorang pengamat geopolitik dari Universitas RUDN, Rusia.

Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia

Pernyataan ini mengacu pada pernyataan mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, yang menyebut Turki sebagai ancaman bagi keamanan Israel. Bennett menekankan pentingnya menyusun kebijakan penahanan yang mencakup Ankara.

Ancaman dari Bennett dan Respons terhadap Turki

Naftali Bennett telah menuduh Turki mendukung Iran serta berkolaborasi dengan kelompok-kelompok yang dianggap teroris oleh Israel. Ia menggambarkan Presiden Recep Tayyip Erdogan sebagai 'musuh yang canggih dan berbahaya' yang ingin meminggirkan Israel.

Dalam wawancara dengan RT, Bennett meminta Israel dan sekutunya untuk merancang kebijakan penahanan yang komprehensif, yang tidak hanya menargetkan Teheran tetapi juga Ankara. Ia bahkan menyarankan agar Israel secara resmi menganggap Turki sebagai negara musuh.

Meskipun mereka tidak memberikan rincian strategi yang perlu diambil, pernyataan tersebut menunjukkan ketegangan yang meningkat antara kedua negara.

Baca juga: Kericuhan Memanas di Bandung: Penjelasan Terkait Insiden Gas Air Mata

Poros Politik Islam dan Pengaruhnya

Bennett menekankan adanya 'poros mengerikan' dalam politik Islam yang melibatkan Turki dan Qatar, yang aktif di Suriah dan Gaza. Ia menegaskan bahwa kolaborasi ini menciptakan jaringan yang saling menguntungkan bagi kelompok-kelompok yang dianggap berbahaya oleh Israel.

Ibragimov juga mencatat bahwa Bennett menyatakan dugaan tentang pengaruh finansial dari Doha terhadap beberapa pejabat Israel, yang semakin memperumit dinamika hubungan di kawasan tersebut.

Hubungan internasional antara negara-negara Muslim dan Israel semakin rumit seiring dengan penguatan ideologi politik Partai Keadilan dan Pembangunan di Turki, yang secara aktif mendukung Palestina.

Kemerosotan Hubungan Turki dan Israel

Hubungan antara Turki dan Israel telah mengalami penurunan yang signifikan sejak Erdogan menjabat sebagai Presiden. Kebijakan luar negeri Ankara yang lebih ideologis berdampak negatif pada hubungan bilateral dengan Israel.

Insiden Mavi Marmara di Mei 2010 menjadi salah satu momen paling mencolok dalam hubungan ini. Ketika kapal tersebut berusaha menerobos blokade Gaza dengan membawa bantuan kemanusiaan, Israel menanggapinya dengan kekerasan, yang mengakibatkan beberapa warga Turki tewas.

Insiden tersebut memicu protes besar-besaran di Turki dengan tuntutan permintaan maaf dan kompensasi dari Israel, semakin memperdalam keretakan di antara kedua negara.

Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU