Rabu, 04 MARET 2026 • 13:59 WIB

Ancaman dan Potensi Kecerdasan Buatan dalam Strategi Militer AS di Iran

Author

Ancaman dan Potensi Kecerdasan Buatan dalam Strategi Militer AS di Iran

Kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian integral dalam strategi militer, dengan informasi terbaru menunjukkan bahwa militer Amerika Serikat menerapkan teknologi ini dalam operasi terhadap Iran.

Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Terkait Kematian Ojol: Kompol Cosmas Dinyatakan Melanggar Etika

Penggunaan AI di medan perang membawa tantangan besar, terutama terkait risiko kesalahan yang dapat memiliki konsekuensi fatal.

Kecerdasan Buatan dalam Strategi Militer AS

Laporan terbaru mengindikasikan bahwa militer AS memanfaatkan sistem kecerdasan buatan, termasuk model Claude dari Anthropic, tidak hanya untuk pengumpulan dan analisis data tetapi juga dalam menentukan target serangan.

Craig Jones, dosen senior geografi politik di Universitas Newcastle, menegaskan, "AI mengubah sifat peperangan modern di abad ke-21. Sulit melebih-lebihkan dampaknya saat ini dan di masa depan. Ini adalah skenario yang berpotensi sangat mengerikan."

Instruksi Percepatan Adopsi Kecerdasan Buatan

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, telah mengeluarkan instruksi untuk mempercepat penggunaan AI di militer dengan fokus pada dominasi teknologi ini.

Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja Dari Rumah untuk ASN

"Saya menginstruksikan Departemen Perang mempercepat Dominasi AI Militer Amerika dengan menjadi kekuatan tempur yang mengutamakan AI di semua komponen, dari garis depan hingga belakang," katanya.

Pendekatan agresif ini menunjukkan tekad militer AS meskipun ada ketegangan mengenai manajemen AI dalam konteks konflik.

Risiko Potensial dan Tantangan Etika

Meskipun penerapan AI menawarkan banyak potensi, para ahli memperingatkan tentang risiko yang datang bersama teknologi ini, terutama dalam pengambilan keputusan.

David Leslie, profesor teknologi di Queen Mary University of London, mengingatkan, "Kita belum berada di era Terminator." AI berfungsi sebagai alat bantu, tetapi tetap memerlukan pengawasan manusia yang efektif.

"Secara teknis, manusia memang ada. Namun menurut saya, itu tidak berarti mereka cukup terlibat untuk memiliki kekuatan pengambilan keputusan efektif dan pengawasan yang tepat atas apa yang sebenarnya terjadi," tambah Jones.

Baca juga: Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online: Komnas HAM temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU