Rabu, 04 MARET 2026 • 10:55 WIB

Stephen Crohn: Kisah Hidup Pria Kebal AIDS yang Mengakhiri Hidup di Usia 66 Tahun

Author

Stephen Crohn: Kisah Hidup Pria Kebal AIDS yang Mengakhiri Hidup di Usia 66 Tahun

Stephen Crohn, seorang seniman asal Amerika Serikat, dikenal karena mutasi genetik langka yang membuatnya kebal terhadap HIV. Namun, di usianya yang ke-66, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, menyisakan banyak pertanyaan tentang perjuangan batinnya.

Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025 Setelah Kalahkan Fritz

Selama bertahun-tahun, Crohn menyaksikan teman-teman dan orang-orang terdekatnya meninggal karena AIDS, yang mengakibatkan beban psikologis yang mendalam. Keputusan tragisnya mengundang perhatian pada dampak emosional yang dialami mereka yang selamat dari penyakit mematikan ini.

Mutasi Genetik Unik dan Kontribusi Stephen dalam Penelitian HIV

Stephen Crohn memiliki mutasi genetik langka yang membuat tubuhnya kebal terhadap HIV. Keterlibatannya dalam penelitian di New York University Medical Center membantu para ilmuwan memahami mekanisme kekebalan ini dan berkontribusi pada pengembangan pengobatan modern.

Ia menjadi subjek penelitian dan secara sukarela terlibat dalam studi yang berkaitan dengan virus HIV, yang menjadi harapan baru dalam bidang virologi. Meskipun banyak temannya terinfeksi dan meninggal dunia akibat AIDS di awal epidemi, Crohn tetap tidak terinfeksi.

Berkat keberaniannya, penemuan tentang obat-obatan penghambat CCR5 terjadi, suatu langkah maju signifikan dalam pengobatan HIV. Kontribusi Stephen menjadi salah satu pijakan penting dalam pemahaman kita tentang penyakit ini.

Baca juga: Lee Min-sung Ajak Timnas Korea Selatan U-23 Siap Bersaing di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Dampak Psikologis yang Dialami Stephen

Dalam sebuah wawancara untuk film dokumenter 'Surviving AIDS' pada tahun 1999, Stephen menyampaikan kesedihannya, 'Setiap tahun akan kehilangan, enam orang, tujuh orang... Ini nggak gampang ketika Anda kehilangan teman-teman.'

Ia merasakan kepedihan yang mendalam saat menyaksikan banyak orang terdekatnya menderita dan meninggal akibat AIDS, sementara ia selamat berkat mutasi genetiknya. Hal ini menyebabkan konflik batin yang berkepanjangan dan perasaan bersalah yang menghantui Stephen.

Dr Bill Paxton dari Aaron Diamond AIDS Research Center menyatakan bahwa Stephen tidak pernah terkena AIDS, bahkan setelah terpapar virus HIV untuk penelitian. Namun kondisi psikologisnya tetap terguncang oleh kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Keputusan Tragis dan Akhir Hidup Stephen

Pada 23 Agustus 2013, Stephen Crohn mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, mengundang spekulasi tentang alasan di balik keputusannya. Banyak yang menduga bahwa rasa bersalah dan beban emosional yang ia bawa menjadi faktor utama.

Amy Crohn, saudara perempuannya, mengungkapkan kebimbangannya, 'Mungkin ini alasan dia (bunuh diri),' merujuk pada pergolakan batin yang terus-menerus dialami Stephen selama bertahun-tahun.

Dikenal sebagai pelukis dan editor lepas untuk Fodor’s Travel Guides, Stephen dibesarkan di Dumont dan kemudian tinggal di New York. Di akhir hidupnya, ia menetap di Saugerties, di mana ia mengakhiri kehidupannya yang penuh dengan pengalaman dan tantangan.

Baca juga: Finfluencer: Solusi Modern untuk Memperbaiki Keadaan Finansial

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU