Tinnitus, atau yang umum dikenal sebagai telinga berdenging, adalah kondisi yang dialami oleh banyak individu di seluruh dunia dan ditandai dengan suara yang muncul tanpa adanya sumber suara eksternal.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Penyebabnya bervariasi, mulai dari paparan suara keras hingga faktor kesehatan lainnya, dan pengobatannya disesuaikan dengan penyebab serta tingkat keparahan yang dirasakan.
Penyebab Tinnitus
Tinnitus dapat muncul akibat berbagai faktor, di antaranya adalah paparan kebisingan yang berkepanjangan. Penelitian menunjukkan bahwa suara keras dari lingkungan kerja, konser, atau alat musik berpotensi merusak sel-sel pendengaran.
Selain paparan suara, infeksi telinga, penumpukan cairan, dan gangguan di telinga tengah juga dapat memicu terjadinya tinnitus. Gangguan kesehatan seperti hipertensi, diabetes, dan stres menjadi faktor risiko yang wajib diperhatikan.
Penyakit Meniere, yang merupakan gangguan di telinga dalam, sering dikaitkan dengan kondisi ini. Ditambah, beberapa jenis obat-obatan seperti antibiotik dan diuretik memiliki efek samping yang dapat mencetuskan tinnitus.
Baca juga: Kasus Tragis Anggota Brimob Terkait Pengemudi Ojek Online Masuki Jalur Pidana
Gejala Tinnitus
Gejala utama dari tinnitus biasanya berupa suara berdengung yang dapat bervariasi dalam intensitas dan frekuensi. Suara tersebut terkadang terdengar seperti desiran atau bunyi yang terputus-putus.
Tinnitus dapat bersifat sementara atau berlangsung secara kronis tergantung pada penyebab yang mendasari. Selain mengalami suara di telinga, penderita juga sering kali menderita gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan perubahan mood.
Penting untuk dicatat bahwa tinnitus bukanlah suatu penyakit melainkan gejala yang dapat mengindikasikan adanya masalah kesehatan lainnya, sehingga diagnosis yang akurat sangat diperlukan.
Pengobatan Tinnitus
Metode pengobatan untuk tinnitus bervariasi tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan gejalan. Dalam beberapa keadaan, pengobatan mungkin tidak diperlukan jika gejalanya bersifat sementara dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari.
Terapi suara, yang meliputi penggunaan alat bantu dengar atau generator suara, seringkali direkomendasikan untuk membantu meredakan gejala. Selain itu, terapi kognitif perilaku (CBT) juga dapat diterapkan guna membantu pasien menghadapi dampak psikologis akibat tinnitus.
Pada kasus yang lebih serius, tindakan medis seperti pembedahan mungkin diperlukan jika ditemukan kelainan struktural di telinga. Oleh karena itu, evaluasi dan konsultasi dengan dokter spesialis THT sangat dianjurkan untuk mendapatkan saran pengobatan yang sesuai.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa BEM SI Dipastikan Digelar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: