Sistem keamanan yang dirancang dengan canggih sering kali dianggap sangat kuat. Namun, penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kebocoran data disebabkan oleh kesalahan manusia yang sepele dan tak terduga.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tersendat di Kualifikasi Piala Asia, Berakhir Imbang Melawan Laos
Sekitar 90% insiden keamanan siber berakar dari kelalaian pengguna, menyoroti kebutuhan mendesak akan pelatihan dan kesadaran terhadap risiko yang ada.
Apa itu Human Error dalam Keamanan Sistem
Human error adalah faktor signifikan yang mempengaruhi keamanan sistem. Kesalahan ini bisa berupa tindakan sepele seperti membuka email phishing hingga melakukan konfigurasi yang salah pada pengaturan keamanan.
Meskipun sistem dirancang seaman mungkin, efektivitasnya sangat bergantung pada pengguna. Tanpa adanya kesadaran dan pelatihan yang memadai, semua investasi dalam teknologi bisa menjadi sia-sia.
Contoh nyata terjadi ketika kebocoran data besar melibatkan ribuan informasi pengguna. Insiden tersebut terjadi karena seorang karyawan tidak sengaja mengklik tautan berbahaya yang membahayakan sistem.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Dengarkan Aspirasi Mahasiswa dalam Pertemuan di Senayan
Dampak dari Kesalahan Manusia
Dampak dari human error tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga pengguna. Data sensitif yang jatuh ke tangan yang salah dapat menyebabkan kerugian jangka panjang yang sulit untuk diperbaiki.
Biaya finansial dari kebocoran data sangat tinggi. Laporan menunjukkan bahwa perusahaan bisa kehilangan jutaan dolar akibat downtime dan kebutuhan untuk memulihkan data setelah insiden.
Tidak hanya itu, reputasi perusahaan dapat terancam dalam waktu singkat. Memperbaiki kepercayaan pelanggan yang hilang memerlukan waktu dan upaya yang tidak sedikit.
Langkah-langkah Meminimalkan Human Error
Pelatihan intensif bagi seluruh karyawan menjadi langkah awal yang penting. Pelatihan ini perlu mencakup praktik terbaik dalam keamanan siber serta pengenalan terhadap berbagai jenis serangan yang umum terjadi.
Menerapkan kebijakan keamanan yang ketat juga sangat mendesak. Misalnya, penggunaan otentikasi dua faktor dan membatasi akses ke data sensitif hanya untuk pihak-pihak yang berkepentingan.
Terakhir, perusahaan harus secara rutin menguji dan mengevaluasi sistem keamanan mereka. Melakukan penilaian berkala dapat membantu mendeteksi potensi celah sebelum dapat dieksploitasi.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat untuk Polisi yang Terluka
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: