Di Bali, bulan suci Ramadhan disambut dengan berbagai tradisi unik yang mencerminkan kearifan lokal. Meskipun mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Hindu, umat Islam di pulau ini tetap melestarikan tradisi yang penting bagi spiritualitas dan persaudaraan.
Baca juga: Google Tanggapi Isu Keamanan Gmail Terkait Phishing
Menjelang Ramadhan 1447 Hijriah yang jatuh pada Kamis (19/2/2026), beberapa tradisi tersebut antara lain Megengan, Megibung, dan Ngaminang. Setiap ritual ini tidak hanya menjalin hubungan sosial, tetapi juga membawa makna mendalam bagi para pelakunya.
Tradisi Megengan
Megengan, yang berasal dari Jawa Timur, adalah tradisi yang menggabungkan budaya Jawa dan Islam. Dalam tradisi ini, umat Islam di Bali mengadakan kenduri setelah shalat Maghrib, yang biasanya dihadiri oleh keluarga dan tetangga.
Sebelum kenduri dimulai, para peserta mengumpulkan sedekah makanan untuk dibagikan. Selain itu, mereka menuliskan nama-nama leluhur yang akan didoakan saat pembacaan doa.
Acara dilanjutkan dengan tahlilan akbar dan sesi makan bersama yang penuh dengan kehangatan. Megengan menjadi sarana untuk memanjatkan doa dan menjaga hubungan sosial di masyarakat.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa BEM SI Dipastikan Digelar pada 2 September 2025
Tradisi Megibung
Megibung adalah tradisi makan bersama yang sangat dijunjung tinggi dalam komunitas Bali, khususnya di Kabupaten Karangasem. Dalam kegiatan ini, warga berkumpul di satu tempat untuk menyantap hidangan tradisional secara bersama-sama.
Tradisi ini biasanya berlangsung sebelum dan selama bulan puasa sebagai simbol kekeluargaan. Ibu-ibu di lingkungan setempat akan memasak bersama serta menyediakan berbagai lauk-pauk khas Bali.
Setelah shalat Maghrib, peserta dibagi ke dalam kelompok untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Megibung berfungsi untuk mendukung interaksi sosial di kalangan komunitas Islam di Bali.
Tradisi Ngaminang
Ngaminang adalah tradisi lain yang memperkuat silaturahmi di kalangan umat Islam di Bali, khususnya di Kampung Gelgel, Klungkung. Istilah 'ngaminang' berarti mengamini, yang mencerminkan praktik bersama yang dilakukan menjelang Ramadhan.
Ibu-ibu desa mempersiapkan hidangan yang akan disedekahkan ke masjid. Tokoh agama setempat memimpin doa khusus untuk meminta berkah bagi pelaksanaan puasa.
Setelah doa dibacakan, semua jamaah mengucapkan 'aamiin' dan duduk bersama untuk menyantap hidangan yang telah disediakan. Tradisi ini menjadi inti kegiatan bersantap yang menekankan nilai-nilai kebersamaan.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: