Seorang profesor dari Galgotias University di India menuai kritik tajam setelah menyebut bahwa robot anjing yang ditampilkan dalam KTT AI di New Delhi adalah hasil pengembangan universitasnya.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang
Pernyataan tersebut tidak sejalan dengan kenyataan bahwa robot tersebut merupakan produk dari perusahaan asal China, Unitree.
Insiden di KTT AI dan Pernyataan Kontroversial
KTT AI Impact Summit di New Delhi menjadi pusat perhatian ketika Profesor Neha Singh dari Galgotias University memperkenalkan robot anjing dalam sebuah wawancara di televisi.
Dalam kesempatan tersebut, Singh menyatakan, 'Ini telah dikembangkan oleh pusat unggulan di Galgotias University,' yang menimbulkan kontroversi karena robot itu sebenarnya merupakan produk dari Unitree.
Robot berwarna perak ini memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai atraksi, termasuk melambai kepada kamera, dan telah dikenal luas sebagai inovasi dari perusahaan asal China.
Klaim yang salah ini kemudian menyebar dengan cepat di media sosial, memicu kecaman dari berbagai pihak.
Klarifikasi dari Galgotias University
Menanggapi kritik yang meluas, Galgotias University merilis sebuah pernyataan resmi melalui platform media sosial X.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru Peroleh Sorotan Tajam dari Komnas HAM dan DPR
Dalam pernyataan tersebut, universitas menekankan, 'Mari kita perjelas -- Galgotias tidak membuat robodog ini, dan kami juga tidak pernah mengeklaimnya.'
Mereka mengklarifikasi bahwa robot yang dipamerkan adalah alat eksperimen yang diperuntukkan bagi mahasiswa.
Universitas kemudian menambahkan, 'apa yang sedang kami bangun adalah pemikiran-pemikiran yang segera akan merancang, merekayasa, dan memproduksi teknologi serupa.'
Reaksi Publik dan Pihak Oposisi
Reaksi dari publik terhadap insiden ini cenderung terpecah, dengan beberapa orang beranggapan bahwa masalah ini terlalu dibesar-besarkan.
Vaidik Mishra, seorang mahasiswa dari Galgotias, mengungkapkan harapannya, 'Kami sangat berharap KTT ini akan memberi kami platform untuk membicarakan start-up kami. Namun sekarang semuanya justru tentang kami yang berbohong soal robot, padahal itu tidak benar.'
Namun, insiden ini juga mendapatkan sorotan politik, terutama dari Partai Kongres sebagai oposisi yang menganggap insiden ini merugikan citra pemerintah.
Mereka mengklaim, 'Pemerintahan Modi telah membuat India menjadi bahan tertawaan global dalam hal AI,' dan mengkritik pengakuan produk asing sebagai inovasi lokal.
Baca juga: Deddy Mahendra Desta Dukung Tuntutan 17+8 di Tengah Kontroversi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: