Patah hati adalah pengalaman yang banyak dialami oleh banyak orang, di mana dampaknya terasa tidak hanya secara emosional tetapi juga fisik. Lebih dari 80% individu di dunia mengalami rasa sakit ini, dan studi menunjukkan adanya kejelasan ilmiah di balik fenomena tersebut.
Baca juga: Apple Siapkan Peluncuran iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Hubungan Antara Nyeri Fisik dan Emosional
Dalam podcast 'Chasing Life', Dr. Yoram Yovell, seorang psikiater dan ahli neurosains, menjelaskan bahwa rasa sakit emosional bukanlah sesuatu yang imajinatif. "Tanyakan kepada seseorang tentang hal paling menyakitkan yang pernah terjadi dalam hidup mereka," kata Dr. Yovell. "Mereka tidak akan menceritakan tentang kecelakaan kendaraan atau operasi medis, tetapi mereka akan bercerita tentang seseorang yang mereka cintai dan telah hilang."
Penelitian juga menunjukkan bahwa area otak yang terlibat dalam nyeri fisik berhubungan erat dengan nyeri emosional. Ketika seseorang mengalami kehilangan, bagian otak yang sama diaktifkan seperti saat terjadi cedera fisik.
Dalam situasi tertentu, duka yang mendalam dapat memicu sindrom takotsubo atau "sindrom patah hati", yang memiliki gejala mirip serangan jantung. Fenomena ini menegaskan bahwa dampak psikologis tidak bisa dipisahkan dari kesehatan fisik.
Peran Sifat Alami Otak dalam Mengatasi Rasa Sakit
Otak manusia dilengkapi dengan hormon endorfin yang berfungsi sebagai pertahanan alami untuk mengatasi rasa sakit. Dr. Yovell menjelaskan bahwa endorfin jauh lebih efektif dalam meredakan nyeri dan meningkatkan suasana hati dibandingkan narkotika.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool, Bursa Transfer Musim Panas Berakhir
"Salah satu hal yang paling membantu adalah terhubung kembali dengan orang lain yang Anda cintai," ungkap Dr. Yovell, menunjukkan pentingnya interaksi sosial dalam proses penyembuhan. Aktivitas sosial dan olahraga yang merangsang produksi endorfin menjadi kunci bagi pemulihan dari patah hati.
Penguatan dari orang-orang terdekat dapat mempercepat proses penyembuhan, karena dukungan sosial mempengaruhi kesejahteraan psikologis.
Dukungan Sosial dalam Proses Pemulihan
Dr. Yovell menekankan perlunya dukungan dari teman-teman bagi mereka yang tengah mengalami patah hati, meskipun sering kali mereka menjauh. "Anda memiliki kekuatan untuk menghibur orang terkasih yang berada dalam tekanan fisik atau emosional yang dalam," katanya.
Ia juga menyatakan bahwa rasa sakit akut seringkali membantu mengidentifikasi hubungan yang paling kita pedulikan. Namun, jika rasa sakit berlangsung lama dan disertai keinginan untuk bunuh diri, maka penting untuk mencari bantuan medis.
Pesan terakhir Dr. Yovell memberikan harapan bagi mereka yang berduka, mengingatkan bahwa "Hati itu kuat. Memang benar itu menyakitkan. Tapi hati bisa sembuh, dan masih ada orang-orang yang mencintaimu."
Baca juga: Finfluencer: Solusi Modern untuk Memperbaiki Keadaan Finansial
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: