Kesepakatan penting antara Real Madrid dan UEFA baru saja mengakhiri perselisihan hukum seputar European Super League, menandai kekalahan proyek ambisius ini.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja Dari Rumah untuk ASN
Langkah ini dianggap sebagai upaya demi kebaikan sepakbola klub Eropa secara keseluruhan, mengakhiri harapan untuk kompetisi baru yang sempat menuai banyak kontroversi.
Kesepakatan yang Mengakhiri Proyek Super League
Dengan mengeluarkan pernyataan resmi, Real Madrid mengungkapkan, "UEFA, Klub-klub Sepakbola Eropa, dan Real Madrid CF mencapai kesepakatan demi kebaikan sepakbola klub Eropa." Kesepakatan ini lahir dari serangkaian dialog panjang yang bertujuan untuk menjunjung kepentingan terbaik dari sepakbola di Eropa.
Dalam pernyataan tersebut, Madrid menyatakan, "Setelah berbulan-bulan pembicaraan yang dilakukan demi kepentingan terbaik sepakbola Eropa, UEFA, Klub-klub Sepak Bola Eropa (EFC), dan Real Madrid CF mengumumkan mereka telah mencapai kesepakatan prinsip demi kesejahteraan sepakbola klub Eropa, dengan menghormati prinsip prestasi olahraga, menekankan keberlanjutan jangka panjang klub, dan peningkatan pengalaman penonton melalui penggunaan teknologi."
Kesepakatan ini dinyatakan akan menuntaskan semua sengketa hukum yang ada seputar Liga Super Eropa, dan setelah implementasi prinsip-prinsip yang disepakati, semua permasalahan akan teratasi. Dengan merelakan proyek ini, berakhir pula sebuah bentuk kompetisi yang pernah dianggap sebagai ancaman bagi keberlanjutan liga-liga lainnya di Eropa.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Ahmad Sahroni: Polisi Kembali Barang yang Hilang
Sejarah Proyek Super League
Proyek Super League pertama kali diperkenalkan pada tahun 2021, dan melibatkan 12 klub-klub besar Eropa, bertujuan untuk menjadi alternatif bagi Liga Champions. Klub-klub tersebut mencakup tiga wakil dari LaLiga, enam dari Premier League, dan tiga dari Serie A.
Beberapa klub yang terlibat dalam proyek ini adalah Real Madrid, Barcelona, Atletico Madrid, Chelsea, Liverpool, Manchester United, Manchester City, Tottenham Hotspur, Arsenal, AC Milan, Inter Milan, dan Juventus. Meski awalnya diharapkan menjadi sebuah inovasi dalam dunia sepakbola, proyek ini secepatnya mendapatkan penolakan dari berbagai kalangan.
Resistensi tidak hanya datang dari asosiasi sepakbola lokal tetapi juga dari penggemar dan tokoh-tokoh legendaris yang merasa bahwa Super League dapat merusak kompetisi sehat yang menjadi ciri khas olahraga ini.
Mundurnya Klub-Klub Pendiri
Setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak, sejumlah klub pendiri mulai menarik diri dari proyek Super League. Diawali oleh klub asal Inggris yang mundur satu per satu, tersisa hanya Real Madrid, Barcelona, dan Juventus.
Pada tahun 2023, Juventus mengumumkan keputusan untuk keluar dari proyek ini, diikuti oleh Barcelona yang melakukan hal serupa beberapa hari lalu. Dengan kesepakatan yang dicapai oleh Real Madrid dan UEFA, tidak ada lagi klub yang tersisa dalam inisiatif Super League yang diluncurkan pada 2021.
Kepindahan semua klub pendiri ini menunjukkan kurangnya dukungan bagi proyek tersebut di dunia sepakbola, sekaligus menandakan akhir dari sebuah inisiatif yang sejak mulanya sarat ambisi namun minim dukungan.
Baca juga: Finfluencer: Solusi Modern untuk Memperbaiki Keadaan Finansial
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: