Selasa, 10 FEBRUARI 2026 • 18:30 WIB

Menilik Aman atau Tidaknya Puasa Ramadan bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Author

Menilik Aman atau Tidaknya Puasa Ramadan bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Puasa Ramadan kerap menjadi perbincangan, terutama bagi para ibu hamil dan menyusui. Banyak yang khawatir mengenai kesehatan ibu dan bayi terkait puasa yang dijalani.

Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens dari Royal Antwerp

Namun, berbagai penelitian dan informasi tersedia untuk membantu ibu hamil dan menyusui dalam menentukan keputusan terbaik mengenai puasa selama bulan suci ini.

Risiko dan Manfaat Puasa bagi Ibu Hamil

Puasa selama Ramadan dapat membawa sejumlah risiko bagi ibu hamil, seperti dehidrasi dan penurunan energi. Oleh karena itu, disarankan bagi ibu hamil untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan untuk berpuasa.

Meskipun ada risiko, banyak yang percaya bahwa mengikuti pola makan sehat dapat memberikan manfaat psikologis dan spiritual. Ibu hamil sebaiknya fokus pada asupan nutrisi saat berbuka dan sahur demi kesehatan tubuh.

Sumber karbohidrat kompleks, protein, dan sayuran segar menjadi pilihan yang tepat untuk dikonsumsi. Hal ini tidak hanya mendukung kesehatan ibu, tetapi juga perkembangan janin.

Ibu hamil harus cermat memperhatikan sinyal dari tubuhnya. Jika merasakan ketidaknyamanan atau masalah kesehatan lainnya, sangat penting untuk segera berhenti berpuasa.

Dampak Puasa bagi Ibu Menyusui

Ibu menyusui juga dihadapkan pada tantangan saat berpuasa karena menyusui memerlukan banyak energi dan cairan. Lactation expert menyatakan bahwa ibu menyusui tidak perlu memaksakan diri untuk berpuasa jika merasa tidak mampu.

Baca juga: Kerusuhan di Bandung Berujung Penembakan Gas Air Mata oleh Pengamanan

Bagi yang ingin berpuasa, penting untuk mengatur jadwal menyusui dengan baik. Menyusui sebelum berbuka adalah salah satu cara agar bayi tetap mendapatkan nutrisi.

Sebagai alternatif, ibu menyusui dapat memilih untuk tidak berpuasa pada hari tertentu dan menggantinya dengan membayar fidyah. Pendekatan ini cenderung lebih aman untuk kesehatan ibu dan bayi.

Kelembapan tubuh perlu dijaga dengan baik. Konsumsi cukup cairan saat tidak berpuasa sangat penting, seperti air dan makanan kaya cairan dalam menu sahur dan berbuka.

Konsultasi Medis dan Saran Ahli

Sebelum memutuskan untuk menjalani puasa, berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangatlah penting. Mereka dapat memberikan panduan terkait pola makan yang ideal.

Dokter umumnya mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi kesehatan ibu dan perkembangan janin atau bayi. Setiap ibu memiliki kebutuhan yang unik.

Ahli gizi menekankan pentingnya menjaga pola makan seimbang meskipun dalam kondisi berpuasa. Pemilihan menu sahur dan berbuka haruslah memperhatikan kebutuhan nutrisi.

Tidak ada formula satu ukuran yang cocok untuk semua. Setiap ibu harus sadar akan kondisi tubuhnya dan siap menghadapi perubahan selama puasa.

Baca juga: Menjelajahi Lima Kota Ramah untuk Liburan Sendirian di Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU