Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, mengungkapkan penyesalan mendalam atas insiden tragis yang melibatkan seorang siswa SD berinisial YBS berusia 10 tahun yang mengakhiri hidupnya. Keputusan tersebut diduga dipicu oleh kekecewaan karena tidak mampu membeli alat tulis sekolah.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tersendat di Kualifikasi Piala Asia, Berakhir Imbang Melawan Laos
Melki menekankan bahwa pemerintah provinsi dan kabupaten telah mengalami kegagalan dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya. Insiden ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk lebih serius dalam menangani isu-isu sosial yang mendesak.
Pernyataan Gubernur NTT mengenai Kegagalan Pemerintah
Gubernur NTT Melki Laka Lena menyampaikan bahwa insiden YBS adalah cermin dari kegagalan berbagai pranata sosial yang ada. "Ini kan kita tidak tahu apa yang salah, tapi pranata sosial kita berarti gagal urus model beginian," ujarnya saat acara peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa di Kupang.
Dalam suasana yang serius, Melki menekankan perlunya pemeriksaan menyeluruh terhadap kesalahan yang terjadi dalam penanganan kasus ini. "Saya minta kita semua hadir di tempat ini, para pejabat-pejabat daerah, termasuk diri saya sendiri kayak gini cukup terakhir sudah," tambahnya.
Melki juga menyebutkan bahwa semua pihak harus bertanggung jawab jika ada kesalahan yang teridentifikasi. Hal ini menunjukkan pentingnya transparansi dalam pengelolaan respons terhadap masalah sosial yang dihadapi.
Baca juga: Mencintai Diri Sendiri: Pentingnya Self Love dalam Kehidupan Sehari-hari
Kronologi Kasus YBS dan Komentar Ibu
Insiden ini melibatkan seorang siswa kelas IV SD bernama YBS, yang mengambil keputusan fatal setelah tidak mendapatkan dukungan finansial untuk membeli alat tulis sekolah. YBS meminta uang senilai Rp10.000 kepada ibunya, tetapi tidak mendapatkan respon positif.
Ibu YBS, yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, mengaku tidak memiliki uang untuk membantu anaknya. Pernyataan ini menyoroti masalah ekonomi yang dihadapi banyak keluarga di daerah tersebut.
Kenyataan bahwa seorang anak merasa terdesak hingga mengambil langkah ekstrem mencerminkan ketidakberdayaan masyarakat yang tidak mendapatkan akses dasar yang memadai.
Dampak dan Harapan untuk Perbaikan
Menanggapi insiden ini, Melki Laka Lena mengungkapkan rasa malunya sebagai gubernur atas kejadian tersebut. "Malu saya sebagai gubernur model ini. Masa ada warga negara mati hanya karena model begini," ungkapnya.
Ia menekankan perlunya perubahan nyata dalam pengelolaan bantuan sosial dan pelayanan publik agar tragedi serupa tidak terulang. Sumber daya yang telah dialokasikan seharusnya tidak berakhir pada kehilangan nyawa orang-orang miskin.
Melki berkomitmen untuk mencari tahu sumber masalah ini dan siap dituntut jika terbukti ada kesalahan dalam pengelolaan. "Kalaupun saya salah, saya siap dituntut, kesalahan itu ada dimana, siap dia dituntut," tegasnya.
Baca juga: Lee Min-sung Ajak Timnas Korea Selatan U-23 Siap Bersaing di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: