Kamis, 29 JANUARI 2026 • 16:26 WIB

Kepadatan Kapal di Pelabuhan Muara Angke: Penyebab dan Implikasinya

Author

Kepadatan Kapal di Pelabuhan Muara Angke: Penyebab dan Implikasinya

Kepala Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan (UP3) Muara Angke menjelaskan bahwa peningkatan jumlah kapal di pelabuhan ini disebabkan oleh sejumlah faktor, dengan cuaca ekstrem menjadi yang utama. Cuaca buruk ini terjadi dari Desember 2025 hingga Januari 2026, menyulitkan perjalanan kapal dan membuat banyak dari mereka terpaksa menunggu berhari-hari.

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Melanjutkan Perjalanan ke China Usai Kerusuhan

Mahad, Kepala UP3 Muara Angke, menegaskan bahwa selain cuaca, banyak kapal yang belum melengkapi dokumen persyaratan untuk berlayar. Keadaan ini menyebabkan kesulitan dalam pengisian perbekalan, mengganggu aktivitas nelayan, dan berpotensi mengakibatkan kerugian finansial.

Faktor Penyebab Kepadatan

Mahad menyatakan bahwa cuaca ekstrem adalah faktor utama di balik kepadatan kapal. Hal ini memaksa banyak kapal untuk menunda keberangkatan dan mengakibatkan antrian panjang.

Selain cuaca, banyak kapal belum memenuhi dokumen yang diperlukan. Kapal-kapal yang seharusnya sudah siap terhambat untuk berlayar karena kendala administrasi.

Kondisi kolam labuh semakin rumit dengan banyaknya kapal yang terparkir, membuat pengisian perbekalan menjadi sulit. Mahad menambahkan, 'Kondisi ini juga menyulitkan kapal-kapal yang dokumennya telah lengkap untuk berangkat.'

Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Ahmad Sahroni: Polisi Kembali Barang yang Hilang

Dampak pada Aktivitas Nelayan

Dampak dari kepadatan ini dirasakan secara langsung oleh nelayan yang mengalami kesulitan dalam aktivitas bongkar muat. Proses yang seharusnya cepat, kini bisa memakan waktu hingga dua hari.

Pada Rabu (28/1/2026), terlihat ratusan kapal terpakir rapat di dermaga. Beberapa kapal bahkan saling bersentuhan akibat keterbatasan ruang, mengharuskan nelayan berteriak untuk menghindari benturan.

James Wiling, pemilik kapal, menyatakan bahwa privasi dalam aktivitasnya terganggu karena kesulitan bongkar muat. Dia berkata, 'Kepadatan ini membuat proses bongkar muat kapal miliknya sulit dilakukan.'

Langkah-Langkah Perbaikan

Menanggapi situasi ini, Mahad mengusulkan beberapa langkah untuk mengatasi kepadatan. Misalnya, penambahan sarana pendukung di kolam labuh agar kapasitas bisa meningkat.

Selain itu, pihaknya berencana untuk menerapkan rekomendasi dalam Panduan Rancang Kota yang terkait dengan zona pelabuhan. Penambahan dermaga tambat labuh dan pengerukan kolam juga menjadi fokus.

Langkah-langkah ini diharapkan bisa meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan, demi kelancaran kegiatan ekonomi yang lebih besar.

Baca juga: Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Eko Patrio Berlanjut

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU