Mitigasi bencana berperan penting dalam mengurangi risiko yang dihadapi akibat bencana alam. Dua pendekatan utama yang harus dipahami adalah mitigasi struktural dan non-struktural, yang masing-masing memiliki keunikan dan fungsi tersendiri.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja Dari Rumah untuk ASN
Pemahaman tentang kedua pendekatan ini tidak hanya membantu pemerintah, tetapi juga masyarakat dalam menghadapi dan meresapi kerentanan terhadap bencana dengan lebih baik.
Mitigasi Struktural: Upaya Fisik dalam Perlindungan
Mitigasi struktural meliputi seluruh upaya pembangunan fisik yang bertujuan untuk melindungi wilayah dari dampak bencana. Contoh nyata dari pendekatan ini adalah pembangunan bendungan dan dinding penahan yang bisa mengurangi risiko bencana seperti banjir atau gempa bumi.
Keberhasilan dari mitigasi struktural tak hanya tergantung pada infrastruktur yang dibangun, tetapi juga pada perencanaan yang matang dan pemeliharaan yang terus-menerus. Jika tidak dirawat dengan baik, infrastruktur tersebut dapat menjadi tidak efektif saat bencana terjadi.
Baca juga: Presiden Prabowo Temui Pimpinan Serikat Pekerja Bahas Aksi Demonstrasi dan RUU
Mitigasi Non-Struktural: Mengedukasi dan Membangun Kesadaran
Berbeda dengan mitigasi struktural, mitigasi non-struktural berfokus pada aspek manajemen dan edukasi. Tindakan ini tidak melibatkan pembangunan fisik, melainkan menciptakan kebijakan dan regulasi untuk mengurangi risiko secara keseluruhan.
Salah satu contoh mitigasi non-struktural adalah program pelatihan untuk masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan keterampilan dalam menghadapi situasi darurat. Edukasi ini vital dalam membangun ketahanan komunitas untuk lebih siap menghadapi bencana.
Menyelaraskan Pendekatan untuk Efektivitas Mitigasi
Kedua jenis mitigasi ini saling melengkapi dan memiliki peranan masing-masing dalam meningkatkan ketahanan suatu wilayah. Meskipun mitigasi struktural memberikan perlindungan fisik, mitigasi non-struktural memberikan landasan mental dan pemahaman kepada masyarakat.
Masyarakat yang paham akan risiko dan memiliki keterampilan untuk menghadapinya cenderung lebih siap saat bencana menyerang. Oleh karena itu, kombinasi dari kedua pendekatan ini sangat dianjurkan untuk mengurangi dampak bencana secara maksimal.
Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: