Senin, 26 JANUARI 2026 • 16:48 WIB

Cesar Longsor Cisarua: Pengaruh Geologi dan Curah Hujan Terhadap Bencana

Author

Cesar Longsor Cisarua: Pengaruh Geologi dan Curah Hujan Terhadap Bencana

Bencana longsor yang melanda Cisarua, Bandung Barat, dinyatakan Badan Geologi bukan sekadar kejadian hidrometeorologi biasa, melainkan merupakan dampak dari kombinasi geologi purba dan kejenuhan air tanah.

Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja Dari Rumah untuk ASN

Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa struktur geologi yang rapuh telah berkontribusi pada keruntuhan lereng yang mengancam permukiman di sekitar.

Analisis Geologi Bencana Longsor

Lana Saria menjelaskan bahwa lokasi longsor terletak pada koordinat LS 6,796861° dan BT 107,539694°, dengan latar belakang batuan Formasi Endapan Gunungapi Tua Tidak Terpisahkan (QVu).

Formasi batuan ini terdiri dari breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, dan material piroklastik yang telah mengalami kondisi pelapukan ekstrem.

Pelapukan yang berlangsung berdampak signifikan terhadap kuat geser tanah, sehingga membuat area tersebut semakin rentan terhadap longsor.

Keberadaan struktur geologi, seperti sesar berarah barat laut-tenggara, menambah parah situasi dengan menciptakan celah untuk infiltrasi air hujan ke dalam tanah.

Faktor Pemicu Longsor di Cisarua

Curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir diidentifikasi sebagai faktor utama pemicu longsor di kawasan ini.

Baca juga: Google Tanggapi Isu Keamanan Gmail Terkait Phishing

Infiltrasi air hujan yang intensif menyebabkan peningkatan tekanan air pori, yang pada gilirannya melemahkan kohesi tanah.

Ketika tekanan air meningkat ke tingkat tertentu, gaya pendorong lereng menjadi lebih besar dari gaya penahan, yang pada akhirnya memicu pergerakan tanah dan batuan.

Peristiwa ini menjelaskan mengapa longsoran tersebut mencakup area yang sangat luas serta menyebabkan kerusakan berat.

Rekomendasi dan Tindakan Pencegahan

Tim teknis merekomendasikan agar penduduk setempat segera mengungsi ke daerah yang lebih aman untuk meminimalkan risiko longsor susulan.

Saat ini, struktur tanah yang terganggu meningkatkan potensi terjadinya longsor lebih lanjut, sehingga tindakan mitigasi mendesak diperlukan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat melaporkan bahwa sejauh ini 19 orang dilaporkan meninggal, 73 orang hilang, dan 666 orang telah mengungsi.

Pemasangan rambu peringatan dan sosialisasi mengenai gejala awal pergerakan tanah juga menjadi prioritas mendesak bagi masyarakat di daerah rawan bencana.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool, Bursa Transfer Musim Panas Berakhir

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU