Thailand kini menghadapi risiko tinggi akibat meningkatnya kasus virus Nipah yang ditularkan oleh kelelawar buah.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025 Setelah Kalahkan Fritz
Virus ini telah menyebar di Asia Tenggara, memicu perhatian serius terhadap pengawasan kesehatan di kawasan tersebut.
Sejarah dan Penyebaran Virus Nipah
Virus Nipah pertama kali terdeteksi pada tahun 1998 dan 1999, menghasilkan wabah yang tercatat di Malaysia dan Singapura dengan 265 kasus, 108 di antaranya berakhir fatal.
Ahli virologi Yong Poovorawan dari Universitas Chulalongkorn menjelaskan bahwa kelelawar buah merupakan pembawa utama virus ini, yang dapat menular ke hewan lain seperti babi.
Lebih lanjut, virus ini berpotensi menular kepada manusia melalui konsumsi buah yang terkontaminasi, meningkatkan risiko bagi masyarakat di sekitar.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Gejala dan Penularan
Gejala awal dari infeksi virus Nipah meliputi demam tinggi dan ensefalitis, namun laporan terbaru menunjukkan bahwa gejala dapat berkembang menjadi pneumonia berat.
Penularan virus berlangsung melalui kontak langsung dengan cairan tubuh dari individu yang terinfeksi, meskipun kemungkinan penularan antar manusia tergolong rendah bila dibandingkan dengan penyakit pernapasan lainnya.
Prof. Yong menyebutkan, 'Tetapi kemungkinannya tidak besar, tidak seperti penyakit pernapasan seperti influenza dan Covid-19, yang menyebar luas.'
Dampak Kesehatan Masyarakat dan Ekonomi
Walaupun risiko wabah saat ini dinilai rendah, potensi dampak yang signifikan pada kesehatan masyarakat dan ekonomi tetap menjadi perhatian yang tidak bisa diabaikan.
Prof. Yong mengingatkan bahwa, 'Meskipun risiko wabah saat ini rendah, wabah yang sebenarnya dapat berdampak serius pada kesehatan masyarakat dan ekonomi.'
Oleh karena itu, Indonesia perlu menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menghindari penyebaran virus Nipah ke wilayahnya.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa BEM SI Dipastikan Digelar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: