Narsisme kerap disalahartikan sebagai kepercayaan diri dan cinta akan perhatian. Namun, studi terkini menunjukkan bahwa mereka yang memiliki sifat narsistik sering kali terjebak dalam sensitivitas emosional yang mendalam terhadap penolakan sosial.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia dan Siap Perkuat Timnas
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menyoroti bahwa sifat utama dari individu narsistik tidak hanya rasa superior, melainkan juga kerentanan emosional yang berkaitan dengan pengucilan dari lingkungan sosial.
Sensitivitas Berlebihan terhadap Pengucilan Sosial
Sensitivitas yang berlebihan terhadap penolakan sosial menjadi ciri khas individu narsistik. Penelitian yang dilakukan di berbagai negara seperti Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat mengungkap bahwa orang dengan sifat narsistik sering merasa terasing.
Laporan para peneliti menyatakan, "Orang dengan tingkat narsisme yang tinggi cenderung sangat peka dalam menangkap sinyal sosial, terutama yang berkaitan dengan status dan penerimaan." Hal ini menunjukkan ketidakpastian emosional yang mendalam meskipun tampak di luar percaya diri.
Christiane Büttner, penulis utama studi, menambahkan, "Temuan kami sangat mendukung bahwa individu narsistik melaporkan pengalaman pengucilan lebih sering, terutama mereka yang memiliki sisi antagonistik dan kompetitif yang kuat."
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Ukir Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Kerentanan Emosional di Balik Keangkuhan
Narsisme tidak sekadar berkaitan dengan sikap merasa unggul, tetapi juga menunjukkan adanya kerentanan emosional. Menurut Psychiatry.org, gangguan kepribadian narsistik ditandai oleh perasaan superior, kebutuhan akan kekaguman, dan kurangnya empati.
"Meskipun narsisme berakar pada grandiositas, individu ini juga bisa mengalami sensitivitas emosional yang tinggi," demikian pendapat para peneliti. Ini menciptakan dualitas dalam perasaan yang sering dialami oleh mereka.
Ketidakmampuan untuk menerima penolakan secara positif dapat menggantikan rasa percaya diri dengan perasaan tidak dihargai, yang akhirnya memperburuk sifat narsistik.
Dampak Narsisme pada Kesehatan Mental dan Hubungan Sosial
Narsisme dapat memberikan dampak signifikan pada kesehatan mental individu. Christiane Büttner menjelaskan, "Narsisme telah dikaitkan dengan kecemasan, depresi, dan bahkan perilaku melukai diri."
Setiap kali individu narsistik mengalami pengucilan, rasa sakit emosional yang mendalam dapat muncul, menciptakan siklus negatif dalam diri mereka. Respons defensif terhadap pengucilan juga bisa memperkuat karakteristik narsistik.
Menghadapi individu narsistik memerlukan pendekatan empatik dan terstruktur, baik di tempat kerja maupun dalam konteks sosial. "Menangani dinamika ini secara terarah dapat membantu mengurangi dampak negatif pengucilan," tutur Büttner.
Baca juga: Universitas Islam Bandung dan Universitas Pasundan Bantah Keterlibatan TNI-Polri di Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: