Kamis, 22 JANUARI 2026 • 19:30 WIB

Pemeriksaan Black Box Pesawat ATR 42-500 Diperkirakan Butuh Waktu Beberapa Hari

Author

Pemeriksaan Black Box Pesawat ATR 42-500 Diperkirakan Butuh Waktu Beberapa Hari

Proses pemeriksaan Black Box dari pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan diperkirakan memakan waktu antara lima hingga sepuluh hari. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, dalam konferensi pers di Makassar.

Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru: Diduga Lakukan Provokasi Anarkis

Setelah Black Box diterima, langkah selanjutnya adalah membuka dan mengunduh data dari perangkat untuk dianalisis. Soerjanto menegaskan bahwa hasil analisis ini berperan penting dalam mengungkap penyebab kecelakaan secara akurat.

Penerimaan dan Proses Analisis Black Box

Proses pengujian dimulai setelah Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI (Pur) Moh Syafi'i menyerahkan Black Box kepada KNKT. Soerjanto menyebutkan bahwa pemeriksaan akan dilakukan di kantor KNKT.

Prosedur awal meliputi pengunduhan data dari dua perangkat dalam Black Box, yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR). CVR merekam komunikasi di kokpit serta suara-suara lain, sedangkan FDR mencatat data penerbangan seperti kecepatan dan ketinggian.

Setelah pengunduhan data, langkah selanjutnya adalah verifikasi untuk memastikan kelayakan data tersebut bagi analisis lebih lanjut. Soerjanto menekankan pentingnya data yang akurat dalam menentukan penyebab kecelakaan.

Baca juga: Kericuhan Memanas di Bandung: Penjelasan Terkait Insiden Gas Air Mata

Detail Tentang Black Box

Soerjanto menjelaskan bahwa meskipun dikenal sebagai Black Box, perangkat ini sebenarnya berwarna jingga terang untuk memudahkan pencarian. Istilah 'black box' digunakan karena data dalamnya tidak dapat diakses sebelum proses analisis.

CVR merekam empat kanal suara, termasuk komunikasi antara pilot dan Menara Lalu Lintas Udara (ATC), serta percakapan antar pilot dan suara di dalam kokpit. Sementara itu, FDR mencatat sekitar 88 parameter penerbangan yang penting untuk analisis.

Dengan memanfaatkan data dari kedua perangkat tersebut, tim investigasi diharapkan dapat mengungkap penyebab insiden dengan tepat dan tidak mengandalkan asumsi.

Tujuan dan Harapan dari Investigasi

Soerjanto mencatat bahwa tujuan utama investigasi ini adalah untuk mendapatkan 'lesson learned' dari insiden tersebut. Hal ini bertujuan untuk mencegah kecelakaan serupa di masa depan.

Sebagai bagian dari proses investigasi, KNKT akan menerbitkan laporan lengkap yang memuat hasil analisis dan rekomendasi perbaikan untuk keselamatan penerbangan. Ini menjadi aspek penting dalam meningkatkan standar keselamatan di sektor transportasi udara.

Dengan investigasi yang sistematis dan berbasis data, diharapkan akan terjadi perbaikan signifikan dalam prosedur dan teknologi keamanan penerbangan di Indonesia.

Baca juga: Lee Min-sung Ajak Timnas Korea Selatan U-23 Siap Bersaing di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU