Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, mengambil langkah tegas dengan memecat Wakil Perdana Menteri Yang Sung Ho dalam sebuah pidato yang disampaikan pada Selasa (20/1). Kritikan keras Kim ditujukan kepada sejumlah pejabat yang dianggap 'tidak kompeten' dan 'tidak bertanggung jawab'.
Baca juga: Adrian Wibowo: Sejarah Pemain Indonesia-Amerika di Major League Soccer
Pemecatan ini tercatat dalam laporan Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA), yang mengindikasikan ketidakpuasan Kim terhadap kinerja pemerintah dan perlunya reformasi untuk memperbaiki keadaan ekonomi negara yang tengah menghadapi tantangan.
Kritik Terhadap Pejabat dan Penegasan Tanggung Jawab
Dalam pidatonya, Kim Jong Un menekankan ketidakpuasan terhadap sejumlah pejabat yang dianggapnya 'tidak bertanggung jawab, tidak sopan, dan tidak kompeten'. Ia menyarankan agar Yang Sung Ho mengundurkan diri sebelum semuanya terlambat, dengan mengatakan, 'Tolong, Kamerad Wakil Perdana Menteri, mengundurkan diri atas kemauan sendiri selagi masih bisa, sebelum semuanya terlambat'.
Kim memberikan peringatan bahwa Yang tidak layak untuk menjalankan tugas yang berat, menggunakan ungkapan metaforis bahwa menunjuk Yang sebagai wakil sama dengan 'memasang gerobak pada seekor kambing'. Dengan kata lain, hal ini menunjukkan kesalahan dalam penunjukan kader yang berpengaruh.
Menambahkan nada serius, Kim menjelaskan, 'Singkatnya, yang menarik gerobak adalah sapi, bukan kambing', menegaskan lagi ketidakpuasannya terhadap pola pemilihan pejabat yang terjadi saat ini.
Baca juga: Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online: Komnas HAM temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Konteks Pemecatan dan Dampak terhadap Stabilitas Pembangunan
Pemecatan terbuka seperti ini jarang terjadi dalam pemerintahan Kim Jong Un, meskipun sering kali ia menegur pejabat yang dianggap malas atau keliru dalam kebijakan ekonomi. Hal ini menunjukkan ketegangan yang semakin meningkat di dalam pemerintahan dan berpotensi berdampak pada stabilitas politik.
Pengamat, termasuk Yang Moo Jin dari University of North Korean Studies, menyatakan bahwa pemecatan Yang Sung Ho mungkin berkaitan dengan persiapan menuju kongres partai yang berkuasa. Diharapkan kebijakan ekonomi serta perencanaan pertahanan akan menjadi agenda utama dalam pertemuan tersebut.
Dari perspektif sejarah, pemecatan Yang mengingatkan pada peristiwa terdahulu ketika pamannya, Jang Song Thaek, dieksekusi pada tahun 2013 karena tuduhan penggulingan kekuasaannya, menunjukkan sifat keras Kim dalam mengendalikan disiplin di kalangan pejabat.
Potensi Perubahan Ekonomi dan Strategi Masa Depan
Kim Jong Un menekankan pentingnya mengatasi 'keterbelakangan ekonomi yang telah berlangsung selama berabad-abad' dan bertekad untuk membangun ekonomi modern yang dapat menjamin masa depan negara. Ia baru-baru ini meresmikan kompleks mesin industri sebagai investasi penting untuk pertumbuhan ekonomi.
Laporan menunjukkan bahwa kompleks ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sekitar 16 persen dari total produksi mesin di Korea Utara. Ini merupakan langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas industri demi kemajuan negara.
Serangkaian langkah tegas ini menjadi sinyal bahwa Kim Jong Un akan lebih berani mengambil tindakan untuk mengatasi keadaan ekonomi yang menurun dan memperbaiki penyimpangan yang mungkin terjadi di kalangan aparatur pemerintahan.
Baca juga: Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang Cozy Dengan Beberapa Trik Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: