Satu jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 ditemukan di jurang sedalam 200 meter dan akan dievakuasi melalui jalur darat. Keputusan ini diambil setelah opsi evakuasi menggunakan helikopter terpaksa dibatalkan akibat kondisi cuaca yang buruk.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tersendat di Kualifikasi Piala Asia, Berakhir Imbang Melawan Laos
Kasi Operasional Basarnas Makassar, Andi Sultan, menekankan bahwa rute evakuasi yang dipilih sangat menantang. Jalan darat yang akan ditempuh memerlukan waktu dan persiapan ekstra untuk memastikan keselamatan seluruh anggota tim dalam proses evakuasi.
Tantangan Evakuasi Melalui Jalur Darat
Kasi Operasional Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa rute evakuasi melalui darat sangat menantang. "Memang cukup jauh ada beberapa jam baru bisa dengan medan yang ekstrem untuk melakukan sampai ke tempat," ungkapnya.
Keputusan untuk menjalani jalur darat diambil dengan mempertimbangkan keselamatan tim evakuasi dan kondisi lokasi yang sulit dijangkau. Proses ini memerlukan persiapan ekstra untuk memastikan keselamatan seluruh anggota tim.
Meskipun jalur darat lebih kompleks, Andi memastikan bahwa tim Basarnas akan bertindak maksimal untuk menjemput jenazah dan melanjutkan pencarian.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool, Bursa Transfer Musim Panas Berakhir
Perluasan Operasi Pencarian
Selain mengevakuasi jenazah, Basarnas juga merencanakan untuk memperluas pencarian guna menemukan serpihan pesawat lainnya. Andi menegaskan, "Iya, kalau itu sudah pasti memperluas wilayah yang kemarin kita sudah sisir, akan digeser untuk diperluas."
Operasi pencarian ini melibatkan berbagai tim gabungan yang dikerahkan ke daerah-daerah sekitar lokasi kecelakaan. Kesepakatan untuk memperluas pencarian diharapkan dapat memberikan informasi lebih mendetail mengenai keberadaan pesawat dan kemungkinan korban lain.
Fokus utama saat ini adalah memastikan bahwa seluruh area di sekitar lokasi telah diperiksa dengan seksama untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang kecelakaan yang terjadi.
Cuaca Buruk Menghambat Evakuasi
Kondisi cuaca buruk menjadi faktor utama yang mempengaruhi jalannya operasi pencarian dan evakuasi. Angin kencang dan hujan deras membuat jalur udara tidak dapat digunakan sama sekali, sebagaimana dijelaskan oleh Andi Sultan.
Meskipun demikian, tim Basarnas tetap berkomitmen untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Meskipun jalan darat merupakan tantangan tersendiri, upaya ini diharapkan dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menemukan dan mengevakuasi jenazah lainnya.
Keselamatan tim evakuasi adalah prioritas utama, sehingga semua tindakan akan diambil dengan penuh kehati-hatian dan perencanaan matang.
Baca juga: Pemeriksaan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: