Pemerintah Indonesia baru saja mengumumkan perubahan ejaan beberapa nama negara dalam bahasa Indonesia, termasuk mengganti Thailand menjadi Tailan. Langkah ini diambil untuk mencapai konsistensi yang lebih baik berdasarkan kaidah fonologi dan ortografi bahasa Indonesia.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang
Perubahan ini dikonfirmasi dalam forum United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) di New York pada awal Mei 2025. Selain Thailand, nama-nama lain seperti Paraguay yang kini menjadi Paraguai dan Afghanistan yang diubah menjadi Afganistan juga terpengaruh.
Latar Belakang Perubahan Ejaan
Usaha untuk menstandardisasi ejaan nama negara asing dalam bahasa Indonesia dimulai sejak 2019. Delegasi Indonesia dalam forum UNGEGN mengumpulkan daftar nama negara dan ibu kota secara menyeluruh.
Pada tahun 2024, upaya ini dilanjutkan dengan penyesuaian ejaan berdasarkan sistem ortografi yang lebih tepat. Hal ini dilakukan agar penulisan nama negara lebih sesuai dengan cara orang Indonesia melafalkan.
Dukungan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sangat penting dalam proses ini, di mana mereka bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan perguruan tinggi untuk memastikan akurasi dalam ejaan baru.
Baca juga: Lee Min-sung Ajak Timnas Korea Selatan U-23 Siap Bersaing di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Daftar Perubahan Nama Negara
Dokumen resmi dari UNGEGN mencatat sebanyak 194 nama negara yang mengalami perubahan sesuai dengan standar baru. Contoh lainnya yang menonjol termasuk Bangladesh yang kini ditulis sebagai Banglades dan Swiss menjadi Swis.
Setelah disetujui, nama-nama ini akan masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada edisi mendatang. Pembaruan ini dilakukan untuk menyelaraskan istilah yang digunakan masyarakat dengan standar internasional.
Pentingnya aspek ini tidak hanya pada konsistensi, tetapi juga mempermudah masyarakat dalam memahami dan mengenali nama negara di dunia internasional.
Implikasi Perubahan Ejaan
Perubahan ejaan bukan hanya sekadar masalah ketepatan bahasa, tetapi juga berperan dalam meningkatkan pemahaman linguistik masyarakat. Dengan perubahan ini, diharapkan orang akan lebih mengenali dan memahami nama-nama negara dengan akurat.
Hafidz Muksin, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, mengungkapkan bahwa perubahan ini adalah upaya untuk menjaga keutuhan bahasa Indonesia. Penyelarasan antara ejaan dan pelafalan diharapkan dapat mengurangi kebingungan yang sering timbul.
Dengan langkah ini, Indonesia semakin menunjukkan komitmennya dalam mempromosikan bahasa resmi di kancah global dan melestarikan keanekaragaman budaya lokal.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: