Senin, 12 JANUARI 2026 • 17:35 WIB

Memahami Grooming: Pengalaman Tragis Aurelie Moeremans dan Pentingnya Kesadaran

Author

Memahami Grooming: Pengalaman Tragis Aurelie Moeremans dan Pentingnya Kesadaran

Aktris Aurelie Moeremans baru-baru ini berbagi pengalaman traumatisnya mengenai grooming yang dimulai sejak usia 15 tahun. Pengalihan ini dibagikannya melalui buku berjudul 'Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth'.

Baca juga: Sidang Etik Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online: Tindakan Berat di Lingkungan Polri

Pengalaman tersebut menarik perhatian publik, memicu diskusi yang lebih dalam tentang grooming, sebuah kondisi yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang.

Apa Itu Grooming?

Grooming adalah proses pendekatan emosional yang dilakukan oleh individu untuk membangun kepercayaan dengan tujuan memanipulasi atau mengeksploitasi korban. Istilah ini sering digunakan dalam konteks kejahatan seksual, terutama terhadap anak-anak dan remaja.

Pelaku grooming, dikenal sebagai groomer, menggunakan beragam strategi untuk menjangkau korbannya. Mereka sering menargetkan individu yang dirasa rentan, seperti yang merasa kesepian atau tidak mendapatkan perhatian cukup.

Dalam proses grooming, terdapat beberapa tahapan yang direncanakan. Pertama, pelaku membangun kepercayaan dengan bersikap ramah serta penuh perhatian, menciptakan ikatan emosional yang membuat korban merasa istimewa.

Baca juga: Universitas Islam Bandung dan Universitas Pasundan Bantah Keterlibatan TNI-Polri di Kericuhan

Dampak Psikologis dari Grooming

Salah satu dampak terburuk bagi korban grooming adalah gangguan psikologis yang mendalam. Trauma yang dialami dapat terus berlanjut, berpotensi menimbulkan masalah seperti depresi dan kecemasan.

Korban sering mengalami rasa bersalah dan malu, meski mereka tidak bersalah atas kejadian yang dialami. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang berdampak serius dalam kehidupan sehari-hari.

Keadaan emosional korban grooming sering kali kacau. Pelaku berhasil membuat mereka merasa dicintai, sehingga sulit bagi korban untuk menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.

Pentingnya Dukungan dan Pencegahan

Dukungan dari keluarga, profesional kesehatan mental, dan lingkungan yang aman sangat vital bagi korban grooming. Mereka perlu merasa didukung untuk pulih dari pengalaman traumatis.

Pencegahan grooming juga bisa dilakukan melalui pendidikan yang memadai bagi anak-anak dan remaja. Pengawasan terhadap aktivitas digital dan komunikasi terbuka antara orang tua dan anak sangat penting.

Masyarakat perlu lebih peka terhadap tanda-tanda grooming agar bisa memberikan perlindungan kepada mereka yang rentan. Dengan meningkatnya kesadaran, diharapkan praktik grooming dapat diminimalisir.

Baca juga: Pemeriksaan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU