Kamis, 08 JANUARI 2026 • 13:20 WIB

Penyebaran Disinformasi Melalui Foto AI: Fenomena Kontemporer di Media Sosial

Author

Penyebaran Disinformasi Melalui Foto AI: Fenomena Kontemporer di Media Sosial

Foto-foto yang mengklaim penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menghiasi berbagai platform media sosial, banyak di antaranya ternyata hasil karya kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini menyusul pengumuman serangan besar oleh mantan Presiden AS, Donald Trump, terhadap Venezuela pada awal Januari 2026.

Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru Peroleh Sorotan Tajam dari Komnas HAM dan DPR

Gelombang Disinformasi di Media Sosial

Setelah Trump mengumumkan serangan terhadap Venezuela, gambar-gambar yang menunjukkan Maduro ditangkap oleh aparat penegak hukum AS mulai viral. Dalam banyak kasus, video ini memamerkan seakan-akan ada konfrontasi antara rakyat Venezuela dan pemerintah.

Media The Guardian menyatakan bahwa informasi yang tidak terverifikasi menciptakan campuran dengan gambar asli, yang membuat publik kesulitan dalam membedakan mana yang faktual dan mana yang tidak. 'Ketidakpastian informasi yang terverifikasi dalam serangan tersebut membuat publik semakin bingung,' ujar laporan tersebut.

Sementara itu, foto-foto yang dihasilkan oleh AI mencatat ratusan ribu tampilan di media sosial. Meski ada alat untuk mendeteksi konten palsu, keakuratan alat-alat tersebut sering kali diragukan.

Peran Influencer dalam Penyebaran Konten Palsu

Contoh mencolok dari fenomena ini diwakili oleh Vince Lago, Wali Kota Coral Gables, yang membagikan gambar palsu Maduro yang tampak dikawal oleh agen DEA. Dalam cuitannya, Lago merujuk pada Maduro sebagai 'pemimpin organisasi narco-teroris yang mengancam negara kita.'

Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta

Postingan tersebut tak pelak mengundang lebih dari 1.500 likes, mengindikasikan betapa cepatnya konten palsu menyebar di kalangan pengguna media sosial. Ini menunjukkan dampak besar influencer dalam penyebaran disinformasi.

Sofia Rubinson, editor senior NewsGuard, memberi pernyataan bahwa kualitas gambar AI sangat sulit dibedakan dari realitas. 'Banyak visual yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan kerap membanjiri media sosial dengan fakta yang tidak sesuai,' terang Rubinson.

Konteks dan Ketidakakuratan dalam Video dan Gambar

Laporan dari NewsGuard mengidentifikasi sejumlah foto dan video yang menyesatkan, dengan klaim yang berhubungan dengan operasi militer di Venezuela. Salah satu video yang menampilkan helikopter pasukan khusus AS sejatinya diambil dari lokasi yang tidak tepat.

Kronologi penyebaran informasi menunjukkan gambar dan rekaman dari tahun-tahun sebelumnya diputar ulang untuk mendukung narasi saat ini. Beberapa influencer sayap kanan juga membagikan video kerumunan yang merayakan penggulingan Maduro, yang sebenarnya adalah rekaman dari tahun lalu.

Alat moderasi berbasis crowdsourcing juga memperlihatkan bahwa video tersebut digunakan secara keliru untuk menggambarkan situasi terkini. 'Sumber saat ini tidak menunjukkan adanya perayaan semacam itu di Caracas hari ini,' ungkap chatbot AI Grok.

Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU