Setelah baru dua hari menandatangani kesepakatan gencatan senjata, militer Thailand mengklaim bahwa Kamboja telah melanggar perjanjian tersebut. Tuduhan ini muncul setelah Thailand mendeteksi lebih dari 250 drone terbang di wilayahnya, memicu ketegangan kembali.
Baca juga: Google Tanggapi Isu Keamanan Gmail Terkait Phishing
Gencatan senjata yang ditandatangani pada 27 Desember 2025 bertujuan untuk mengakhiri konflik perbatasan yang telah menewaskan puluhan orang, namun ancaman Thailand untuk mengevaluasi langkah diplomatik kini mengkhawatirkan banyak pihak.
Latar Belakang Gencatan Senjata
Gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja ditandatangani untuk mengakhiri bentrokan yang telah berlangsung beberapa minggu terakhir. Konflik tersebut telah menyebabkan banyak korban jiwa dan jumlah pengungsi yang signifikan di kedua belah pihak.
Kesepakatan ini mencakup penghentian tembakan, pembekuan pergerakan pasukan, dan kerja sama dalam pembersihan ranjau. Dengan adanya kesepakatan ini, kedua pihak juga berkomitmen untuk memfasilitasi kembalinya warga sipil ke rumah mereka.
Baca juga: Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang Cozy Dengan Beberapa Trik Sederhana
Tuduhan Pelanggaran oleh Thailand
Militer Thailand mengklaim bahwa lebih dari 250 kendaraan udara tak berawak (UAV) terdeteksi terbang dari Kamboja ke wilayah Thailand pada malam 28 Desember 2025. Hal ini dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan yang telah disepakati.
Juru bicara militer Thailand, Winthai Suvaree, menggarisbawahi bahwa aktivitas drone ini mencerminkan sikap bermusuhan dari pihak Kamboja. Tuduhan ini meningkatkan ketegangan di kawasan yang sebenarnya sudah mulai meredah setelah penandatanganan gencatan senjata.
Respon dan Dampak yang Mungkin Terjadi
Menteri Luar Negeri Kamboja, Prak Sokhonn, menyikapi tuduhan ini dengan merendahkan permasalahan ini sebagai isu kecil. Ia menambahkan bahwa kedua pihak sepakat untuk menyelidiki insiden tersebut secara bersama-sama.
Namun, situasi tetap rentan seperti yang dinyatakan oleh Winthai Suvaree. Ia menyebutkan, 'Militer Thailand mungkin perlu mempertimbangkan kembali keputusannya mengenai pembebasan 18 tentara Kamboja, tergantung pada situasi dan perilaku yang diamati'.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Insiden Perampokan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: