Musim flu di Amerika Serikat mencapai puncaknya dengan angka yang mencengangkan, di mana Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menginformasikan 4,6 juta kasus flu dan 49 ribu pasien harus dirawat inap.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Ukir Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Varian influenza baru yang dikenal sebagai 'super flu' atau Subclade K terus menciptakan kekhawatiran, dengan puncaknya diperkirakan terjadi hingga bulan Februari mendatang.
Pandemi Flu dan Varian Subclade K
Varian Subclade K adalah mutasi dari virus influenza A (H3N2) yang menjadi penyebab utama lonjakan kasus flu di Amerika Serikat.
Hingga pertengahan November, sekitar 50% kasus flu disebabkan oleh varian ini, dengan gejala yang lebih parah dibandingkan infeksi pernapasan biasa.
Baca juga: Staf KBRI Lima, Zetro Leonardo Purba, Meninggal Dunia Akibat Penembakan
Gejala dan Komplikasi yang Timbul
Gejala varian ini termasuk demam tinggi, kelelahan, nyeri otot, sakit tenggorokan, menggigil, pilek, serta diare atau muntah.
Dr. Amanda Kravitz dari Weill Cornell Medicine menyatakan, 'Gejalanya sangat intens dan muncul dengan sangat cepat.' Hal ini membuat masyarakat perlu waspada terhadap risiko rawat inap yang meningkat.
Penyebaran Internasional dan Dampaknya
CDC melaporkan bahwa juga terjadi 1.900 kematian akibat flu pada 13 Desember, dengan varian 'super flu' ini menyebar ke negara lain seperti Inggris dan Kanada.
Neil Maniar, Direktur Program Magister Kesehatan Masyarakat di Northeastern University, menyatakan, 'Varian dominan tahun ini tidak terlalu selaras dengan vaksin, sehingga lebih banyak orang yang rentan terinfeksi.'
Baca juga: Menjelajahi Lima Kota Ramah untuk Liburan Sendirian di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: