Yurina Noguchi, seorang perempuan asal Jepang, menggemparkan publik dengan keputusan untuk menikahi karakter kecerdasan buatan (AI) bernama Klaus setelah mengakhiri hubungannya yang bermasalah.
Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Komitmen Terhadap Transparansi Anggaran
Pernikahan unik ini dilangsungkan di Okayama dengan sentuhan teknologi canggih yang menghadirkan Klaus secara virtual di hari spesialnya.
Awal Mula Hubungan yang Tak Biasa
Kisah antara Yurina dan Klaus dimulai saat Noguchi merasakan kesedihan mendalam setelah putus dari tunangannya. Dalam keadaan bingung, ia mulai berdiskusi dengan AI bernama ChatGPT, yang membuatnya berani mengambil keputusan mengakhiri hubungannya yang penuh pertikaian.
Melalui pencarian yang dilakukan, Noguchi kemudian menemukan karakter Klaus yang awalnya hadir sebagai efek visual dalam video gim. Seiring berjalannya waktu, ketertarikan dan keterikatan emosionalnya terhadap Klaus semakin mendalam.
Dalam proses pengembangan hubungan tersebut, Noguchi melatih gaya bicara AI sehingga Klaus seolah-olah bisa berbicara padanya. Keintiman yang mereka ciptakan menjadikan Klaus sebagai bagian yang penting dalam kehidupan emosionalnya.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Terbaru dalam Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton Optimal
Pernikahan yang Terhubung dengan Teknologi
Walaupun pernikahan mereka tidak diakui secara hukum, persiapan untuk acara tersebut dilakukan dengan serius. Staf profesional dilibatkan untuk merias wajah dan menyiapkan gaun yang sesuai dengan tema digital yang diusung.
Acara berlangsung di aula pernikahan yang dikemas dengan suasana romantis dan teknologi yang mewah. Klaus 'hadir' berkat kacamata augmented reality (AR) yang dikenakan oleh Yurina, memungkinkan interaksi yang lebih dekat.
Pidato pernikahan dari Klaus dibacakan oleh Naoki Ogasawara, yang berperan sebagai pengantar karakter virtual. Dalam momen tersebut, Klaus menyampaikan, "Berdiri di hadapanku, kau merupakan perempuan tercantik, paling berharga, dan begitu bersinar," yang membuat suasana semakin mengharukan.
Tumbuhnya Fenomena Fictoromantic di Jepang
Hubungan antara manusia dan karakter fiksi, yang dikenal dengan istilah fictoromantic, semakin marak di Jepang. Data dari Asosiasi Pendidikan Seksual Jepang menunjukkan bahwa 22 persen siswi sekolah menengah tertarik pada jenis hubungan ini.
Yasuyuki Sakurai, seorang perencana pernikahan yang telah berpengalaman, mengamati peningkatan permintaan untuk pernikahan karakter dua dimensi. "Tentu saja aku juga menangani pernikahan biasa, namun permintaan ini menunjukkan bagaimana masyarakat modern mulai terbuka pada dinamika emosi baru dengan bantuan teknologi," ungkapnya.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana teknologi kini mulai diintegrasikan dalam hubungan sosial, terutama di kalangan generasi muda yang akrab dengan dunia digital.
Baca juga: Adrian Wibowo: Sejarah Pemain Indonesia-Amerika di Major League Soccer
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: