Kuil Naksan di Yangyang, Provinsi Gangwon, Korea Selatan, baru saja meluncurkan program menginap bagi anak-anak yang bertujuan untuk memberikan pengalaman spiritual tanpa gangguan teknologi.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia
Program tiga hari ini melarang penggunaan gawai untuk meningkatkan keterlibatan anak-anak dalam aktivitas yang ditawarkan.
Pengalaman Menarik di Kuil Naksan
Kuil Naksan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas, termasuk sesi latihan olahraga musim dingin, meditasi, dan upacara minum teh.
Kegiatan-kegiatan ini dirancang untuk membantu generasi muda menjauh dari ketergantungan pada gadget dan lebih terhubung dengan diri mereka sendiri.
Sesi pertama program ini dijadwalkan untuk dimulai pada 26 Desember, dan pendaftaran untuk program ini telah dibuka untuk umum.
Terkenal dengan pemandangan menawan yang menghadap Laut Timur, Kuil Naksan menambah keindahan pengalaman spiritual yang ditawarkan.
Kuil Lain Mengikuti Jejak
Selain Kuil Naksan, Kuil Naeso di Buan, Provinsi Jeolla Utara, juga menawarkan program serupa selama tiga malam bagi anak-anak yang ingin belajar hanja.
Baca juga: Staf KBRI Lima, Zetro Leonardo Purba, Meninggal Dunia Akibat Penembakan
Program ini mencakup delapan lokakarya yang turut diselingi dengan kegiatan seni, meditasi, dan yoga seperti yang dilakukan di Kuil Naksan.
Kuil Beopju di Boeun, Provinsi Chungcheong Utara, juga tidak mau ketinggalan dengan menyajikan program berfokus pada meditasi Zen serta kegiatan luar ruang seperti seluncur salju dan perburuan harta karun.
Kegiatan yang beragam ini menunjukkan usaha kuil-kuil untuk menarik minat generasi muda dan memperkenalkan mereka pada budaya tradisional.
Inovasi dalam Program Kuil
Kuil Baekyang di Jangseong, Provinsi Jeolla Selatan, menawarkan program menginap selama dua hari bagi anak-anak, dengan kegiatan yang berfokus pada meditasi dan api unggun.
Program-program ini bertujuan untuk memperkenalkan generasi muda pada budaya dan tradisi nasional Korea, agar mereka lebih memahami akar budaya mereka.
Para pengelola kuil kini juga mulai menyediakan program dalam bahasa Inggris, menambah aksesibilitas bagi turis asing yang ingin merasakan pengalaman budaya Korea secara mendalam.
Dengan inovasi-inovasi seperti ini, kuil-kuil di Korea Selatan berupaya untuk tetap relevan dan menarik bagi generasi muda di era digital.
Baca juga: Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Eko Patrio Berlanjut
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: