Sebanyak 61.983 warga Kabupaten Aceh Tengah terjebak dalam kondisi terisolir, tersebar di 97 desa dengan logistik yang sangat memprihatinkan.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025 Setelah Kalahkan Fritz
Bencana alam telah memutus akses jalur darat, sehingga distribusi bantuan hanya bisa dilakukan melalui udara.
Tantangan Konektivitas dan Distribusi Bantuan
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aceh Tengah, Mustafa Kamal, mengungkapkan bahwa 97 desa mengalami kesulitan akses karena jalur darat terputus. "Daerah terisolir kekurangan logistik, bantuan belum dapat disalurkan ke semua lokasi," ujarnya.
Bantuan yang ada saat ini hanya dapat dikirimkan ke titik-titik pengungsian melalui Bandara Rembele di Takengon. Mustafa menambahkan, "Secara kabupaten kita terkurung, sementara itu ada 97 kampung yang belum bisa diakses lewat darat dari Takengon."
Pemerintah daerah sedang berusaha membuka akses ke desa-desa tersebut dengan menggunakan alat berat, dengan fokus pada Kecamatan Bintang, Rusip Antara, Celala, dan Linge.
Baca juga: Google Tanggapi Isu Keamanan Gmail Terkait Phishing
Kondisi Logistik yang Memprihatinkan
Dalam kondisi kritis ini, Mustafa mencatat kesulitan dalam mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan penyalur logistik. "BBM dan gas habis, bahan pangan sudah kritis, obat-obatan masih kritis dan kebutuhan balita juga sudah kritis," jelasnya.
Minimnya pasokan LPG sebagai sumber energi juga menambah beban masyarakat di daerah tersebut. Informasi yang diterima menunjukkan, variasi bantuan semakin terbatas seiring berlanjutnya masalah akses dan keterbatasan sumber daya.
Apabila situasi ini tidak segera diatasi, risiko kesehatan dan keselamatan warga terisolir akan meningkat. Oleh karena itu, koordinasi antara otoritas lokal dan pusat sangat dibutuhkan untuk mencari solusi yang efektif.
Upaya Pemda Dalam Mengatasi Krisis
Pemerintah daerah Aceh Tengah telah mengerahkan alat berat ke lokasi-lokasi krisis untuk mempercepat pembukaan akses jalan. Mustafa menyatakan, "Alat berat milik Pemda juga masih bekerja membuka akses ke 97 kampung tersebut."
Namun, upaya ini belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat, mengingat terbatasnya mobilitas kendaraan mempengaruhi seberapa cepat bantuan dapat disalurkan.
Diharapkan adanya langkah kolaboratif dari berbagai pihak untuk memastikan bantuan logistik dapat segera sampai ke tangan warga yang membutuhkan.
Baca juga: Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Eko Patrio Berlanjut
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: