Belakangan ini, ghosting menjadi fenomena yang semakin umum dalam dunia dating dan hubungan, terutama di kalangan anak muda. Praktik ini merujuk pada kondisi di mana seseorang tiba-tiba memutuskan hubungan tanpa penjelasan, menyebabkan kebingungan bagi pihak lainnya.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tersendat di Kualifikasi Piala Asia, Berakhir Imbang Melawan Laos
Di tengah penggunaan aplikasi kencan yang semakin meningkat, ghosting seolah menjadi solusi mudah bagi mereka yang tidak ingin menghadapi ketidaknyamanan perpisahan. Namun, apa yang sebenarnya menyebabkan tingginya angka ghosting di masyarakat saat ini?
Apa Itu Ghosting?
Ghosting adalah istilah yang menggambarkan tindakan menghilangnya seseorang dari sebuah hubungan tanpa memberi penjelasan. Dalam konteks hubungan romantis, ini biasanya dilakukan ketika salah satu pihak mendadak memutus komunikasi dan mengabaikan pesan yang dikirim oleh pasangannya.
Fenomena ini semakin umum di era digital, di mana platform media sosial dan aplikasi kencan memudahkan seseorang untuk melakukan ghosting. Dari yang sekadar tidak membalas pesan hingga menghapus akun, tindakan ini meninggalkan pihak yang ditinggalkan dalam kebingungan dan rasa ditinggalkan.
Dampak psikologis dari ghosting juga signifikan. Banyak orang yang mengalami kesedihan dan kebingungan ketika ditinggalkan tanpa alasan, merasa seolah-olah mereka tidak memiliki nilai dalam kehidupan orang yang menghilang.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru Peroleh Sorotan Tajam dari Komnas HAM dan DPR
Mengapa Ghosting Menjadi Normal?
Ada beberapa faktor yang berkontribusi pada normalisasi fenomena ghosting. Pertama, kemudahan berkomunikasi melalui teknologi memfasilitasi tindakan ini, di mana interaksi dapat dilakukan tanpa tatap muka, mengurangi rasa tanggung jawab individu.
Kedua, ketakutan menghadapi konfrontasi sering kali menjadi penghambat. Banyak orang merasa lebih nyaman dengan menghilang daripada menjelaskan perasaan dan risiko yang mungkin menyakitkan bagi pihak lainnya.
Anggapan bahwa ghosting adalah opsi yang lebih baik daripada memberikan jawaban yang mungkin menyakitkan juga berperan. Beberapa orang merasa mereka melakukan tindakan baik dengan menghindari percakapan yang bisa berujung pada drama atau kesedihan.
Dampak dari Ghosting
Dampak dari ghosting cenderung lebih dirasakan oleh orang yang ditinggalkan. Mereka sering merasa tersisih dan terus berusaha mencari tahu apa yang salah, padahal keputusan ini sering kali sepihak dan tanpa penjelasan.
Ketidakpastian yang dihasilkan dari ghosting dapat memicu masalah kesehatan mental, seperti peningkatan kecemasan dan perasaan rendah diri. Banyak yang merasa dirugikan dan mempertanyakan nilai diri mereka setelah mengalami situasi seperti ini.
Dalam jangka panjang, ghosting dapat membentuk cara pandang dan kepercayaan seseorang terhadap hubungan. Mereka mungkin menjadi lebih skeptis dan mengalami kesulitan untuk mempercayai orang lain di masa depan.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat untuk Polisi yang Terluka
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: