Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengungkapkan bahwa penurunan populasi merupakan tantangan terbesar yang dihadapi negara tersebut saat ini. Ia menambahkan bahwa tindakan darurat diperlukan untuk mengatasi dampak ekonomi dan sosial dari masalah ini.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru: Diduga Lakukan Provokasi Anarkis
Dalam pengumuman tersebut, Takaichi menegaskan pentingnya strategi yang komprehensif untuk mempromosikan peningkatan angka kelahiran dan menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi generasi muda.
Strategi Populasi yang Komprehensif
Dalam pertemuan perdana Markas Strategi Populasi, Takaichi menyatakan, "Menyadari bahwa tantangan terbesar yang dihadapi negara kita adalah penurunan populasi, kami telah mendirikan Markas Strategi Populasi untuk mempromosikan tindakan pencegahan secara komprehensif."
Rencana aksi yang disusun mencakup reformasi besar untuk mendorong peningkatan angka kelahiran, serta menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi generasi muda dan perempuan di daerah pedesaan.
Pemerintah juga berkomitmen untuk membangun ekonomi regional baru yang dapat menciptakan nilai tambah dan memfasilitasi koeksistensi dengan pekerja asing.
Baca juga: Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang Cozy Dengan Beberapa Trik Sederhana
Dampak Demografi dan Ekonomi
Jepang kini dikenal sebagai masyarakat super-aged, di mana hampir 30% dari penduduknya berusia di atas 65 tahun, mengakibatkan prospek ekonomi yang suram.
Angka kelahiran yang terus menurun hingga mencapai 1,15 jauh di bawah tingkat penggantian 2,1 yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan populasi.
Kondisi ini berkontribusi pada pengurangan komunitas pedesaan dan meningkatnya rasio ketergantungan non-produktif, ditopang oleh jumlah pekerja yang semakin berkurang.
Rencana Pengeluaran untuk Keluarga dan Anak
Masalah penurunan populasi telah menjadi fokus utama pemerintah dengan mengajukan rencana anggaran tahunan sebesar 3,6 triliun yen Jepang, setara dengan Rp 3.836 triliun, untuk paket kebijakan anak dan keluarga.
Paket ini dijanjikan oleh mantan Perdana Menteri Fumio Kishida dan dijadwalkan untuk mulai berlaku pada tahun fiskal 2026.
Dengan peningkatan investasi ini, diharapkan Jepang memiliki kesempatan terakhir untuk membalikkan tren penurunan kelahiran sebelum memasuki dekade 2030-an.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat untuk Polisi yang Terluka
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: