Jumat, 21 NOVEMBER 2025 • 17:38 WIB

Ketegangan Hubungan Jepang dan China Terkait Isu Taiwan

Author

Ketegangan Hubungan Jepang dan China Terkait Isu Taiwan

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengungkapkan upaya diplomatis di tengah ketegangan yang melibatkan China terkait isu Taiwan. Dalam konferensi pers, Takaichi menegaskan komitmennya untuk membangun hubungan yang konstruktif meskipun sikap Jepang tetap konsisten mengenai Taiwan.

Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Terbaru dalam Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton Optimal

Pernyataan tersebut muncul setelah pembicaraan Takaichi dengan Presiden China, Xi Jinping, yang menyoroti pentingnya hubungan strategis antara kedua negara. Namun, China merespons dengan memperketat tekanan diplomatik dan ekonominya terhadap Jepang.

Pernyataan Takaichi dan Balasan Beijing

Pada tanggal 21 November 2025, Takaichi menegaskan, "Pada akhir bulan lalu, Presiden Xi (Jinping) dan saya menegaskan arah umum untuk memajukan hubungan strategis kita yang saling menguntungkan secara komprehensif dan membangun hubungan yang konstruktif dan stabil." Ia menekankan bahwa hubungan antara Jepang dan China harus berdasarkan prinsip saling menguntungkan.

Namun, pernyataan Takaichi tentang Taiwan memicu reaksi negatif dari Beijing. Tindakan balasan dari China mencakup larangan impor terhadap seluruh produk makanan laut Jepang, yang mulai berlaku sejak Rabu, dan meningkatkan ketegangan bilateral antara kedua negara.

Takaichi mengonfirmasi, "Posisi pemerintah tetap tidak berubah," terkait isu Taiwan, yang dianggap Beijing sebagai pernyataan yang menyesatkan. Hal ini memperlihatkan ketidakpuasan Beijing dan tuntutannya agar Jepang dapat menarik kembali pernyataan tersebut.

Baca juga: Sidang Etik Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online: Tindakan Berat di Lingkungan Polri

Dampak Ekonomi dan Pariwisata

Larangan impor ini menjadi tantangan serius bagi hampir 700 eksportir Jepang yang telah bersiap untuk memasuki kembali pasar China, yang merupakan pasar terbesar bagi mereka. Sebelumnya, larangan serupa terkait isu pelepasan air limbah Fukushima baru saja dilonggarkan beberapa bulan yang lalu.

Menanggapi situasi ini, pemerintah Jepang mengeluarkan himbauan kepada warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke China. Data dari Organisasi Pariwisata Nasional Jepang menunjukkan wisatawan asal China Daratan merupakan kelompok terbesar, mencapai sekitar 5,7 juta atau hampir 23% dari total kedatangan wisatawan di Jepang pada tahun 2025.

Dampak larangan ini sangat signifikan bagi sektor pariwisata Jepang yang bergantung pada kunjungan wisatawan dari China, menambah fakta bahwa ketidakpastian ekonomi semakin merata di berbagai sektor.

Tanggapan Pemerintah China

Pemerintah China mendesak Jepang untuk segera mundur dari sikapnya dan memperbaiki pernyataan yang dianggap salah. Dalam pernyataan resmi, pemerintah China menegaskan, "Jika Jepang menolak dan terus membuat kesalahan, China tidak akan ragu mengambil tindakan balasan yang tegas dan keras, dan Jepang harus menanggung konsekuensi penuhnya."

Tanggapan ini menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara semakin meningkat, sementara hubungan bilateral tetap dalam keadaan yang tidak menentu. China mengharapkan tindakan konkret dari Jepang untuk memperbaiki jalur hubungan yang lebih positif.

Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada hubungan diplomatik tetapi juga menjalar ke aspek ekonomi dan pariwisata, yang semakin terganggu oleh situasi ini.

Baca juga: Presiden Prabowo Temui Pimpinan Serikat Pekerja Bahas Aksi Demonstrasi dan RUU

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU