Insiden ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta, Jumat lalu, telah melukai puluhan siswa dan guru. Eks Kepala Densus 88 Antiteror, Komjen Marthinus Hukom, mengungkap bahwa terduga pelaku sebelumnya melaporkan tindakan bullying yang tidak ditanggapi oleh pihak sekolah.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Pernyataan ini muncul dalam konteks penyelidikan kepolisian terkait insiden tersebut. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan motif di balik ledakan yang mengakibatkan 96 orang terluka.
Pernyataan Eks Kepala Densus Mengenai Bullying di Sekolah
Marthinus Hukom menjelaskan bahwa laporan mengenai bullying terduga pelaku diperoleh dari hasil pemeriksaan penyidik dan keterangan siswa di sekolah. Ia mencatat, 'Itu kan dari hasil investigasi anak-anak penyidik di lapangan ya. Bahwa dia bersama temannya itu pernah lapor ke sekolah bahwa dia di-bully, tapi tidak ditanggapi.'
Kondisi ini diperkuat dengan catatan pribadi terduga pelaku yang berstatus anak berkonflik dengan hukum. Dalam buku catatan tersebut, ia menyampaikan rasa putus asa terhadap perhatian pihak sekolah yang tidak mengindahkan laporan bullying yang dilaporkannya.
Marthinus menegaskan bahwa situasi ini menggambarkan perlunya pihak sekolah untuk lebih terbuka terkait isu perundungan yang kerap terjadi. 'Bahkan dia kan sampai bilang bahwa, ‘Untuk apa percaya sama Tuhan, kita lapor kepada sekolah aja juga tidak ada keadilan,’ begitu,' tambahnya.
Baca juga: Apple Siapkan Peluncuran iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Tanggapan Kepala Sekolah SMAN 72 Jakarta
Kepala SMAN 72 Jakarta, Tetty Helena Tampubolon, menyanggah adanya laporan terkait bullying yang diungkapkan oleh terduga pelaku. 'Yang saya panggil memang satu, lalu saya minta tolong ke tiga guru BK lainnya, ‘siapa yang sudah dihubungi?’ Ternyata jawabannya, ‘Bu, kami enggak ada (laporan soal bully),’' ujarnya.
Namun, Tetty mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan pendekatan lebih halus kepada siswa untuk menggali informasi lebih lanjut. 'Ya, sepengakuan anak-anak itu, mereka tidak tahu sebenarnya anak ini (pelaku) di-bully atau tidak,' jelasnya.
Kepala sekolah juga menekankan bahwa dalam pendekatan tersebut, tidak ada informasi yang mengindikasikan perundungan terjadi terhadap terduga pelaku. Pendekatan ini dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan kepada siswa agar mau berbagi informasi.
Kronologi dan Dampak Ledakan
Ledakan terjadi di masjid SMAN 72 Jakarta sekitar pukul 12.15 WIB saat siswa dan guru sedang menjalankan salat Jumat. Ledakan pertama terjadi saat khotbah berlangsung, diikuti oleh ledakan kedua dari arah yang berbeda.
Kejadian ini menyebabkan 96 orang mengalami luka-luka, dan informasi awal menunjukkan bahwa terduga pelaku adalah siswa dari sekolah tersebut. Pihak kepolisian menemukan benda yang menyerupai airsoft gun dan revolver di lokasi kejadian.
Setelah diperiksa, kedua benda tersebut dipastikan hanya sebagai senjata mainan. Saat ini, kepolisian masih menyelidiki motif dan penyebab pasti dari ledakan tersebut, dengan fokus pada dugaan bullying yang dihadapi terduga pelaku.
Baca juga: Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang Cozy Dengan Beberapa Trik Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: